Moneter dan Fiskal

The Fed Kekeuh Ketatkan Kebijakannya di Tengah Perlambatan Inflasi

Jakarta – Para pejabat Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menyambut berita pada Kamis yang menunjukkan inflasi meningkat di bawah ekspektasi pada bulan lalu, dan mereka mencatat bahwa peningkatan suku bunga bisa melambat ke depannya.

Namun, mereka memperingatkan untuk jangan terlalu excited dengan data yang ada, karena harga-harga masih sangat tinggi.

“Data satu bulan tidak menunjukkan kemenangan, dan saya pikir sangat penting untuk memahami bahwa ini hanyalah satu helai informasi positif, tapi kita ingin mendalami keseluruhan informasi,” ujar President Fed San Francisco, Mary Daly pada sesi tanya jawab dengan European Economics and Financial Centre, seperti dikutip dari CNBC, 13 November 2022.

Mary Daly dan pejabat The Fed lainnya mengatakan pernyataannya itu setelah Biro Statistik Pekerja AS melaporkan, indeks harga konsumen meningkat 0,4% di Oktober, di bawah perkiraan Dow Jones yang sebesar 0,6%.

Data itu mengirimkan sinyal bahwa sekalipun inflasi masih tinggi, kenaikan harga mungkin telah mereda dan semakin menuju level yang lebih rendah.

Market menunjukkan kinerjanya mengikuti data laporan tersebut, dimana rata-rata industri Dow Jones meningkat lebih dari 1.000 poin. Kebijakan sensitif Imbal hasil Treasury Note selama 2 tahun jatuh 30 basis poin atau 0,3 persen poin ke 4,33%.

Walaupun Daly mengatakan bahwa laporan itu adalah berita baik, ia mencatat, inflasi yang berada di 7,7% secara tahunan masih terlalu tinggi dan berada jauh dari target bank sentral AS yang sebesar 2%.

“Itu lebih baik daripada melebihi 8%, namun ini masih belum mendekati 2% untuk membuat saya merasa nyaman. Jadi, ini jauh dari kemenangan,” ucap Daly.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester, dimana laporan hari Kamis memang menunjukkan membaiknya inflasi inti dan lainnya, tapi ia melihat bahwa tren inflasi tersebut masih tinggi.

Presiden The Fed Kansas, Esther George, mencatat bahwa sekalipun level inflasi bulanan lebih rendah, inflasi masih dekat ke rekor tertingginya selama 41 tahun di musim panas ini.

“Dengan inflasi yang masih meninggi dan berpotensi bertahan, kebijakan moneter jelas memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” jelas Esther.

Esther pun menyarankan untuk pendekatan yang disengaja perlu dilakukan lebih lagi ke depannya. “Sekarang adalah momen penting untuk menghindari kontribusi berlebih terhadap volatilitas pasar keuangan,” katanya.

Mester dan George adalah anggota voting penentuan tingkat suku bunga di Federal Open Market Committee. (*) Steven Widjaja

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Nasib Rupiah setelah Libur Lebaran di Tengah Perang dan Fiskal yang Bak di Tepi Jurang

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group LIBUR Lebaran tahun ini mungkin terasa… Read More

4 hours ago

Biar Nggak Tekor, Ini Cara Atur THR dan Jaga Kesehatan saat Lebaran

Poin Penting THR menjadi momentum menata keuangan, mulai dari kewajiban, utang, tabungan, hingga perlindungan finansial.… Read More

12 hours ago

BI Tetap Siaga di Pasar Jaga Rupiah selama Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri

Poin Penting BI tetap siaga memantau rupiah selama libur Lebaran, termasuk melalui pasar offshore meski… Read More

14 hours ago

Dampak Perang Timur Tengah, BI Tarik Sinyal Penurunan Suku Bunga

Poin Penting BI tidak lagi memberi sinyal penurunan suku bunga akibat meningkatnya risiko global dari… Read More

15 hours ago

BSN Jalin Kerja Sama dengan Ekosistem Properti Syariah Indonesia

Kerjasama ini juga membuka ruang bagi pengembangan bisnis terutama inisiatf mendukung program pemerintah dalam pengembangan… Read More

15 hours ago

Porsi Pembiayaan Meningkat, Maybank Indonesia Perkuat Pembiayaan SME Syariah

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More

17 hours ago