Market Update

Tensi Geopolitik Memanas, Praktisi Pasar Modal Imbau Investor Lebih Waspada

Poin Penting

  • Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat menguat.
  • Investor diimbau adaptif, bisa beralih ke obligasi atau memanfaatkan koreksi saham dengan fokus fundamental.
  • IHSG tetap prospektif, diyakini mampu menembus level 10.000 meski asing masih net sell.

Jakarta – Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, dibuka menguat 0,27 persen ke level Rp16.850 per dolar AS (USD). Meski demikian, posisi rupiah masih berada dekat dengan level psikologis Rp17.000 per USD.

Co-Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menilai, keadaan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik yang memicu investor asing kembali menempatkan dananya ke USD.

“Karena emerging market dianggap lebih berisiko, duitnya balik ke USD. Sehingga rupiah kita melemah,” kata Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal di Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026.

Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat Dipicu Harapan Seputar Greenland

Dalam kondisi tersebut, Hans Kwee mengimbau investor untuk memahami dinamika ekonomi makro agar dapat menyesuaikan strategi investasi. Menurutnya, investor dapat mempertimbangkan pergeseran ke instrumen yang lebih defensif seperti obligasi atau pasar uang.

Di sisi lain, volatilitas pasar juga membuka peluang akumulasi saham saat terjadi pelemahan, dengan catatan tetap memperhatikan fundamental perusahaan.

“Kita harus membeli perusahaan yang potensi growth-nya tinggi, tapi pada fair price, harga yang fair. Jadi dalam market yang bull seperti ini, kalau kita mengharapkan membeli saham pada under value yang ter-discount tinggi, itu agak sulit terjadi. Jadi kita beli di fair price dengan potensi pertumbuhan tinggi,” imbuhnya.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah, Tinggalkan Level 9.000

IHSG Masih Berpeluang Tembus 10.000

Adapun, Hans Kwee juga tetap optimistis terhadap prospek pasar saham domestik. Ia meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang menembus level 10.000 hingga akhir tahun ini.

Optimisme tersebut didukung oleh struktur pasar saham Indonesia yang dinilai semakin independen dari pergerakan investor asing. Hal ini tercermin dari kinerja IHSG yang ditutup di level 8.646 atau menguat 22,13 persen sepanjang 2025, meskipun terjadi aksi net sell asing sebesar Rp17,34 triliun. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Menguak Dugaan Kegagalan KAP dan Ketimpangan Penegakan Hukum dalam Skandal Kredit Sritex

Jakarta - Persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang terkait kasus kredit macet PT… Read More

46 mins ago

Top! Laba Bank Kalbar Februari 2026 Tumbuh 14,81 Persen di Tengah Tekanan Ekonomi

Poin Penting Hingga Februari 2026, Bank Kalbar mencetak laba Rp98,71 miliar, naik 14,81 persen (yoy),… Read More

2 hours ago

OJK Hormati Putusan KPPU atas 97 Pindar, Fokus Jaga Stabilitas Industri

Poin Penting OJK menghormati putusan KPPU yang menjatuhkan sanksi kepada 97 pindar atas pelanggaran persaingan… Read More

16 hours ago

Kinerja Ciamik, Hartadinata Abadi (HRTA) Raih Pendapatan Rp44,55 T di 2025

Poin Penting Kinerja melonjak signifikan, pendapatan HRTA naik 144,39% menjadi Rp44,55 triliun dan laba bersih… Read More

18 hours ago

Celios Nilai Dana SAL Bisa Dialokasikan untuk Jaga Defisit APBN

Poin Penting SAL dinilai penting sebagai bantalan APBN untuk mengantisipasi pelebaran defisit akibat lonjakan subsidi… Read More

18 hours ago

Banyak yang Tunggu THR Lalu Resign, Ini Penjelasan Sebenarnya

Poin Penting Resign usai THR tidak signifikan, biasanya sudah direncanakan jauh hari dan dilakukan setelah… Read More

21 hours ago