Poin Penting
Jakarta – Penjarahan yang terjadi di tengah rangkaian bencana alam di sejumlah wilayah Sumatra menjadi gambaran kompleksitas kerugian yang muncul setelah musibah.
Sejumlah pelaku usaha harus menghadapi kerugian lanjutan akibat aksi penjarahan terhadap toko, gudang, dan aset usaha mereka.
Namun, di balik sorotan publik terhadap peristiwa tersebut, industri asuransi menegaskan bahwa kerugian akibat penjarahan tidak serta-merta dijamin dalam polis asuransi harta benda.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan bahwa kerugian akibat penjarahan hanya dapat diklaim apabila risiko tersebut sejak awal telah diperluas dalam polis asuransi.
“Penjarahan itu masuk ke asuransi harta benda, tetapi harus dengan perluasan jaminan. Klausulnya jelas, yaitu klausul 4.1 A tentang kerusuhan,” ujar Ketua AAUI, Budi Herawan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.
Baca juga: Klaim Asuransi Bencana Sumatra Capai Rp567 Miliar, AAUI Soroti Protection Gap
Dalam praktik asuransi, penjarahan dikaitkan dengan risiko kerusuhan yang diatur secara khusus melalui Klausul 4.1 A. Tanpa klausul tersebut, perusahaan asuransi tidak memiliki dasar kontraktual untuk membayarkan klaim, meskipun penjarahan terjadi bersamaan dengan bencana alam.
Klausul tersebut mendefinisikan kerusuhan sebagai tindakan sekelompok orang, minimal 12 orang, yang secara bersama-sama menimbulkan gangguan ketertiban umum dengan kegaduhan, kekerasan, serta pengrusakan harta benda.
Definisi ini menjadi rujukan utama bagi perusahaan asuransi dalam menilai apakah suatu peristiwa penjarahan dapat dikategorikan sebagai risiko yang dijamin atau tidak. Selain itu, definisi tersebut juga membedakannya dari huru-hara maupun terorisme yang memiliki perlakuan berbeda dalam polis asuransi.
Baca juga: OJK Pastikan Industri Asuransi Siap Percepat Penjaminan Polis ke 2027
Di sisi lain, AAUI juga meluruskan informasi yang berkembang terkait pembayaran klaim atas bencana alam yang saat ini terjadi di Sumatra.
Hingga kini, industri asuransi umum menegaskan belum ada satu pun klaim yang dibayarkan, baik secara penuh maupun interim. Seluruh proses masih berada pada tahap awal penilaian kerugian.
“Saya garis bawahi, sampai hari ini belum ada perusahaan asuransi yang membayarkan klaim akibat kejadian bencana alam ini. Yang sifatnya interim pun belum ada sama sekali,” tegas Budi. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More
Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More
Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More
Poin Penting RUPSLB KB Bank menunjuk Tae Doo Kwon sebagai Wakil Komisaris Utama menggantikan Seng… Read More
Bank Indonesia bekerjasama dengan Perbankan menyediakan Penukaran uang baru untuk Lebaran 2026 di Basket Hall… Read More