Moneter dan Fiskal

Tarik Investasi, Pemerintah Pastikan Aturan DHE Dibuat Seramah Mungkin

Jakarta – Pemerintah mengaku tengah merevisi aturan mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang masih terus dibahas. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, aturan DHE ini akan dibuat seramah mungkin sehingga bisa menarik investasi bagi Indonesia.

“Kita juga berkerjasama erat dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga Indonesia dari volatilitas global. DHE kita lakukan secara proper, sehingga neraca pembayaran dan cadangan devisa terjaga, karena memang ekspor kita cukup baik. Kemudian Indonesia akan tetap menjaga dari sisi lalu lintas devisanya secara friendly sehingga kita juga bisa menarik investasi secara meyakinkan,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KITa Februari 2023.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu menambahkan, dengan revisi PP 1/2019 pemerintah mendesain kembali aturan DHE agar dapat memberikan penguatan yang lebih signifikan bagi stabilitasi makro di Indonesia.

Dia menjelaskan, perombakan dari aturan DHE tidak bertentangan dengan rezim devisa bebas, karena aturan baru ini secara spesifik ditujukan pada DHE sumber daya alam (SDA).

“Pemerintah melihat bahwa kinerja ekspor kita yang selama ini sangat baik paling tidak dalam 2 – 3 tahun terakhir khususnya 2022, besarnya US$292 miliar ini adalah rekor. Dengan demikianlah maka pemerintah melihat dan mendesain kembali seperti apa pengaturan agar DHE ini dapat memberikan penguatan yang lebih signifikan bagi stabilitas makro Indonesia,” jelas Febrio.

Terkait dengan insentif, Febrio pun menjelaskan, hal ini pun tengah dipersiapkan untuk ditawarkan kepada eksportir. Saat ini, mengenai insentif penyimpanan dolar eksportir telah diatur dalam PP 123 Tahun 2015.

Dalam aturan tersebut, DHE yang dimasukan dalam rekening khusus dan deposito dalam bentuk dolar disimpan di dalam negeri atau perbankan domestik, dengan tenor 6 bulan akan mendapatkan tarif PPh bunga 0%. “Sedangkan, kalau menaruh di tenor yang lebih rendah itu ada pajaknya tetapi juga tetap lebih rendah dibandingkan harga tarif pajak yang normal yang sebesar 20%,” katanya.

Dia pun berharap, dengan insentif ini akan menjadi daya tarik bagi eksportir untuk memarkirkan dolarnya di perbakan Indonesia. “Insentif ini kita harapkan jadi daya tarik tersendiri, selain melihat desain yang lebih konsisten untuk menjaga stabilitas makro Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Recent Posts

OTT KPK di Bea Cukai: Eks Direktur P2 DJBC Ditangkap, Uang Miliaran-Emas 3 Kg Disita

Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More

4 hours ago

Istana Bantah Isu 2 Pesawat Kenegaraan untuk Prabowo, Ini Penjelasannya

Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More

4 hours ago

BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More

4 hours ago

Apa Untungnya Danantara Masuk Bursa Saham? Ini Kata Pakar

Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More

4 hours ago

BTN Ungkap Penyebab NPL Konstruksi Tinggi, Fokus Bereskan Kredit Legacy

Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More

5 hours ago

Risiko Bencana Tinggi, Komisi VIII Minta Anggaran dan Sinergi Diperkuat

Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More

5 hours ago