Market Update

Targetkan Karbon Netral 2030, TBS Beberkan Rencana Transisi Bisnis Berkelanjutan

Poin Penting

  • TBS menargetkan karbon netral pada 2030 melalui dekarbonisasi aset, pertumbuhan bisnis hijau, dan tata kelola ESG.
  • Capex USD600 juta dialokasikan hingga 2030, fokus pada bisnis non-coal seperti energi terbarukan, waste management, dan kendaraan listrik.
  • TBS mendapat pengakuan lembaga keuangan global karena rencana transisi iklim yang kredibel, menjadi panutan di industri.

Jakarta – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berambisi mencapai karbon netral pada 2030. Target itu dibarengi dengan ekspansi ke bisnis hijau, yang diyakini akan menguntungkan dan berkelanjutan pada masa depan.

TOBA memiliki TBS Climate Transition Plan sebagai panduan menjalankan transformasi bisnis dan dekabornisasi. Tiga strategi utama dekarbonisasi TBS adalah, mempercepat dekarbonisasi aset, termasuk lewat divestasi PLTU dan phase out 3 konsesi tambang batu bara hingga 2027.

Lalu, mempercepat pertumbuhan bisnis low karbon. Tidak tanggung-tanggung, demi mendukung target itu, TBS Energi Utama mengalokasikan belanja modal (capex) sampai dengan USD600 juta hingga 2030. Mayoritas belanja modal itu mengalir ke bisnis baru non coal, yaitu bisnis hijau yang mencakup waste management, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Ketiga, mengurangi efek rumah kaca dari operasional perusahaan dan memperkuat governance berbasis data dan pengawasan ESG dalam strategi bisnis.

Hal itu terungkap dalam sesi diskusi panel bertajuk TBS Climate Transition Plan “Charting a Profitable Path to a Sustainable Future”, yang menjadi bagian dari acara TBS Re/define di Jakarta, Rabu, 12 November 2025.

“Climate Transition Plan kami bukan hanya soal mengurangi emisi, tapi juga bagaimana membuat bisnis kami tumbuh menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan profitable,” papar Triana Krisandini, SVP Sustainability TBS.

Baca juga: Akselerasi Transformasi Bisnis Hijau, TBS Siapkan Capex USD600 Juta hingga 2030

Bisnis hijau yang dijadikan fokus utama perseroan terus menunjukkan pertumbuhan yang solid. Saat ini, secara konsolidasi kontribusinya sudah mencapai sekitar 39 persen dari total revenue TBS. Porsinya akan terus membesar seiring pertumbuhan bisnis hijau. Di saat yang sama, porsi portofolio bisnis batu bara juga terus diperkecil.

“Tiga tahun lalu ketika kami bilang mau carbon neutral. Mungkin bagi banyak orang terkesan “gila” bagi sebuah perusahaan yang mempunyai coal mining company. Tapi kenyataanya, kita bisa membuktikan bahwa kita sudah bertransisi. Memang belum 100 persen, tapi kita sudah menuju ke sana,” lanjutnya.

Keberhasilan TBS disebut tidak lepas dari transparansi dan kolaborasi, termasuk dengan lembaga keuangan untuk sisi pembiayaan serta media yang berperan sebagai watch dog.

Pada kesempatan sama, Agnes Theresa, SVP Sustainability DBS Bank mengungkapkan, dari sudut pandang lembaga keuangan, memiliki rencana transisi iklim yang kredibel bagi perusahaan sangat penting. Mayoritas dari lembaga keuangan global dan investor institusional masih mempertimbangkan aset atau perusahaan yang memiliki rencana transisi iklim yang kredibel.

“Itulah sebabnya ketika kami didekati TBS dan bekerja sama dalam rencana ini, TBS menjadi salah satu contoh panutan yang terbaik di industri ini,” ujar Agnes.

Baca juga: TBS Energi Utama (TOBA) Catat Penurunan Pendapatan 31 Persen, Ini Penyebabnya

Ia menegaskan, climate transition plan TBS memiliki serangkaian tujuan, tindakan, dan mekanisme yang jelas serta akuntable. Ini patut diapresiasi, karena tidak banyak perusahaan yang tercatat memiliki rencana transisi iklim yang kredibel.

Pada 2023 misalnya, CDP mengumpulkan data rencana transisi lebih dari 20 ribu perusahaan. Jumlah perusahaan yang mempunyai rencana transisi memang meningkat 44 persen dari tahun sebelumnya. Tapi hanya 2 persen perusahaan yang dianggap mempunyai rencana transisi kredibel. (*) Ari Astriawan

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

10 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

11 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

11 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

17 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

18 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

18 hours ago