Dalam kondisi ekonomi baru ini, kata dia, perbankan syariah harus mampu menghadapinya dengan merespon kondisi yang ada saat ini. Diharapkan, perbankan syariah dapat terus berkembang meski kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik tengah naik turun.
“Di dalam situasi ini bagaimana respon regulator dan industri. Kita menghadapi new era ekonomi yang slow down. Karena itu kita perlu mekanisme baru di syariah, transaksi baru, framework regulasi baru yang terkait dengan fintech , dan instrumen baru lainnya,” ucap Mulya.
Oleh sebab itu, lanjut dia, diperlukan evaluasi bagi industri perbankan syariah dalam menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan sebuah produk dan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Sehingga perbankan syariah mampu menghadapi kondisi ekonomi baru.
“Dalam keadaan seperti itu, ekonomi tumbuh tapi kita tidak bisa menciptakan pekerjaan. Ini yang harus kita bangun, dan berinovasi. Kita harus evaluasi, baik industri maupun regulator. Kalao tidak lakukan, kita bisa terlambat,” tutupnya. (*)
Page: 1 2
Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More
Poin Penting OJK mulai membuka informasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) di… Read More
Poin Penting AAUI menyebut industri kesulitan memenuhi modal minimum tahap I 2026. Minat pemegang saham… Read More