Dalam kondisi ekonomi baru ini, kata dia, perbankan syariah harus mampu menghadapinya dengan merespon kondisi yang ada saat ini. Diharapkan, perbankan syariah dapat terus berkembang meski kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik tengah naik turun.
“Di dalam situasi ini bagaimana respon regulator dan industri. Kita menghadapi new era ekonomi yang slow down. Karena itu kita perlu mekanisme baru di syariah, transaksi baru, framework regulasi baru yang terkait dengan fintech , dan instrumen baru lainnya,” ucap Mulya.
Oleh sebab itu, lanjut dia, diperlukan evaluasi bagi industri perbankan syariah dalam menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan sebuah produk dan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Sehingga perbankan syariah mampu menghadapi kondisi ekonomi baru.
“Dalam keadaan seperti itu, ekonomi tumbuh tapi kita tidak bisa menciptakan pekerjaan. Ini yang harus kita bangun, dan berinovasi. Kita harus evaluasi, baik industri maupun regulator. Kalao tidak lakukan, kita bisa terlambat,” tutupnya. (*)
Page: 1 2
Poin Penting Danantara aktif sebagai investor pasar saham Indonesia dan menilai valuasi saham domestik masih… Read More
Poin Penting Allianz mencatat klaim asuransi di Bali mencapai Rp22 miliar sepanjang 2025, didominasi kerusakan… Read More
Poin Penting HSG ambruk 4,88 persen ke level 7.922,73 pada perdagangan 2 Februari 2026, dengan… Read More
Poin Penting Harga beras naik di seluruh tingkat pada Januari 2026, baik di penggilingan, grosir,… Read More
Poin Penting Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), tertinggi sejak Mei 2023, naik tajam… Read More
Poin Penting Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan investor tidak perlu panik menyikapi peringatan MSCI… Read More