Perbankan

Tambah Modal jadi Rp5,3 Triliun, Bank IBK Indonesia Siap Gelar Rights Issue

Jakarta – Bank IBK Indonesia (IBK Indonesia) segera merealisasikan Penawaran Umum Terbatas (PUT) V dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Direncanakan, perseroan akan menerbitkan sebanyak 13.814.688.390 (tiga belas miliar delapan ratus empat belas juta enam ratus delapan puluh delapan ribu tiga ratus sembilan puluh) lembar saham dengan harga Rp100 per lembarnya.

“Jadi rights issue sekarang dalam persiapan, dimana kami menargetkan dalam semester satu (2023) kita akan mendapatkan effective letter dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Pasar Modal. Tadi sudah dilakukan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa), di mana rights issue akan bertotal sekitar Rp1,2 triliun,” ujar Direktur Kepatuhan Bank IBK Indonesia , Alexander Frans Rori, di Jakarta, Rabu, 8 Februari 2023.

Ia menambahkan, dari aksi korporasi yang akan dilakukan tersebut, IBK Korea akan menjadi pembeli siaga atau standby buyer dengan membeli saham baru yang ditawarkan dalam PUT V nantinya dengan jumlah Rp1 triliun. Proses rights issue ini ditargetkan akan selesai sampai pertengahan tahun 2023.

“Yang akan menjadi pembeli siaga adalah IBK Korea dengan total sebesar Rp1 triliun, kemudian sisanya akan ditawarkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan pasar modal,” tegas Alexander.

Sementara itu, Direktur Utama IBK Indonesia, Cha Jae Young mengatakan dana dari rights issue sebesar Rp1,2 triliun tersebut akan digunakan untuk belanja modal kerja perseroan. “Kami optimis dengan adanya peningkatan modal ini, struktur permodalan menjadi lebih baik sehingga perseroan memiliki pendanaan yang cukup untuk menjalankan strategi usaha ke depannya dengan kondisi yang semakin menantang,” terangnya.

Dengan suksesnya aksi korporasi ini nantinya, maka modal inti atau core capital IBK Indonesia menjadi Rp5,3 triliun. Saat ini, modal inti perseroan berada di posisi Rp4,1 triliun. “Untuk posisi saat ini core capital kita sudah ada di Rp4,1 triliun kemudian di 2023 rencananya juga ada top up untuk core capital sekitar Rp1,2 triliun,” kata Cha Jae Young. (*) Bagus Kasanjanu

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim, Ini Targetnya

Poin Penting OJK dan Pemerintah Inggris Raya membentuk Kelompok Kerja Pembiayaan Iklimuntuk mempercepat pembiayaan iklim… Read More

14 mins ago

IHSG Ditutup Lanjut Merosot 1,04 Persen, Ini Penyebabnya

Poin Penting IHSG ditutup turun 1,04 persen ke level 8.235,26 akibat sentimen negatif dari kebijakan… Read More

30 mins ago

Pikap India Mulai Didistribusikan ke Kopdes Merah Putih, Disaksikan Wakil Panglima TNI

Poin Penting: Pikap India Mahindra Scorpio telah diserahkan ke Kopdes Merah Putih di Surabaya dengan… Read More

43 mins ago

BEI Bidik 50 Ribu Investor Syariah Baru di 2026

Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More

1 hour ago

OJK Setujui Penggabungan 4 BPR Menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari

Poin Penting OJK menyetujui merger empat BPR di Priangan Timur menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari… Read More

1 hour ago

Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?

Poin Penting BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba… Read More

2 hours ago