Triwulan IV-2018, Defisit Transaksi Berjalan Naik Lagi Jadi USD9,1 Miliar
Jakarta – Bank Indonesia (BI) diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate nya di level 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang dilaksanakan pada 20-21 Maret 2019 ini. Level suku bunga tersebut konsisten dengan upaya BI untuk menjangkar ekspektasi inflasi serta menjaga daya tarik aset keuangan domestik yang mendorong stabilitas rupiah.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Ekonom PermataBank, Josua Pardede saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019. Menurutnya Bank Sentral masih akan mencermati dan memastikan bahwa level suku bunga kebijakan yang ada saat ini, juga konsisten untuk mengarahkan penurunan defisit transaksi berjalan (current account deficit) ke arah yang lebih sehat.
Di sisi lain, kata dia, keputusan BI yang diperkirakan masih akan menahan suku bunganya juga sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar yang menyebutkan bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Maret ini. Kondisi ini juga mempertimbangkan ketatnya pasar keuangan AS.
“The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan juga sejalan dengan ekspektasi perlambatan ekonomi global yang meliputi berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok dan Eropa,” ujar Josua.
Bahkan di sisi lain, Bank Sentral AS juga mengisyaratkan tidak akan menaikan suku bunga pinjaman selama tahun ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi selain terjadinya penurunan pengeluaran dan ketidakpastian global yang meluas. Padahal sebelumnya, pada tahun lalu The Fed berencana bakal menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali di 2019.
“Pertumbuhan ekonomi AS pun diperkirakan cenderung melambat ke level 2,5 persen pada tahun ini melambat dari tahun lalu yang tercatat 3,1 persen. Fed mencermati beberapa indikator perlambatan ekonomi dari business fixed investment yang tumbuh dengan laju melambat serta melemahnya penjualan ritel,” ucapnya.
Selain keputusan Bank Sentral AS untuk mempertahankan suku bunga acuannya, The Fed juga merilis dot plot yang mengindikasikan ekspektasi anggota FOMC terkait arah suku bunga The Fed dalam 3 tahun mendatang, di mana sebagian besar anggota FOMC berpendapat bahwa suku bunga The Fed cenderung tetap atau tidak akan mengalami kenaikan mulai dari tahun 2019 hingga 2020.
“Stance kebijakan moneter Fed yang netral tersebut serta dovish outlook dari suku bunga AS mendorong pelemahan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama dan berpotensi mendorong penguatan mata uang rupiah dalam jangka pendek ini,” paparnya. (*)
Poin Penting Kinerja Bank Aladin Syariah tumbuh solid, dengan aset mencapai Rp14 triliun dan nasabah… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya melantik 27 pejabat Eselon II Kemenkeu, mayoritas berasal dari Direktorat Jenderal… Read More
Poin Penting Thomas Djiwandono bertemu Gubernur BI Perry Warjiyo untuk berdiskusi dan mendengar berbagai masukan… Read More
Poin Penting Adopsi AI dan regulasi menjadi tantangan utama industri 2026, menuntut model bisnis berkelanjutan… Read More
Poin Penting Thomas Djiwandono mengakui tidak memiliki latar belakang moneter, namun yakin kapabilitas lain dapat… Read More
Poin Penting Integrasi data pascamerger jadi kunci kinerja BSI, dengan membangun single source of truth… Read More