Keuangan

Tabungan Jadi Prioritas atau Gaya Hidup? Simak Pandangan UOB Indonesia

Jakarta – UOB Indonesia memandang pentingnya literasi keuangan untuk membantu masyarakat memahami dan mengelola keuangan pribadi dengan baik, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian. 

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja mengungkapkan, inflasi dan ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat untuk mengutamakan tabungan sebagai langkah perlindungan terhadap risiko ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan.

Menurutnya, selain inflasi, ancaman kehilangan pekerjaan juga membuat sebagian besar masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran dan meningkatkan tabungan sebagai cadangan darurat.

“Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan respons umum terhadap ketidakpastian ekonomi global yang meluas,” katanya, dikutip Selasa, 12 November 2024.

Di sisi lain, Enrico menyoroti pola konsumsi di kalangan generasi muda Indonesia yang cenderung mengarah pada gaya hidup konsumtif. Menurutnya, konsumsi terhadap barang-barang non-esensial mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Baca juga : Ramai Fenomena Makan Tabungan, Permata Bank Santai Transaksi Nasabahnya Aman

Lebih lanjut, dirinya membeberkan ada empat kategori konsumsi populer di kalangan milenial, yaitu sun (liburan dan perjalanan), skin (produk perawatan kulit), screen (gadget dan perangkat elektronik), dan sugar (makanan dan minuman manis).

“Peningkatan konsumsi barang-barang gaya hidup ini, mencerminkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bisa berdampak negatif jika mengurangi proporsi tabungan. Masyarakat pun diminta tetap waspada agar konsumsi tidak mengurangi cadangan untuk masa depan,” terangnya.

Pihaknya berharap, generasi muda perlu mengurangi konsumsi yang berlebihan dan lebih fokus pada peningkatan aset. Sebab, apabila tren gaya hidup konsumtif terus berlanjut tanpa perhatian terhadap stabilitas keuangan, risiko finansial di masa depan akan semakin besar.

Kekhawatiran Finansial Mendominasi Masyarakat Indonesia

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh UOB Indonesia, kekhawatiran finansial memang menjadi salah satu hal utama yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia. 

Di mana, sebanyak 76 persen responden di Indonesia merasa khawatir terhadap kondisi keuangan mereka. Kekhawatiran ini bukan hanya terkait aspek finansial, tetapi juga meluas ke ketidakpastian dalam dunia pekerjaan. Tercatat, 61 persen responden merasa cemas dengan masa depan pekerjaan mereka.

Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret menyebutkan, sebanyak 49 persen masyarakat merasa ragu terhadap kemampuan mereka untuk menabung. Banyak yang ingin menabung, tetapi ada ketidakpastian apakah mereka bisa melakukannya secara konsisten

Selain itu, 40 persen responden menyatakan kekhawatiran bahwa mereka tidak akan dapat menyisihkan uang untuk investasi, sementara 35 persen lainnya merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi diri sendiri maupun keluarga.

Baca juga : Ekonomi Lesu, Masyarakat Makan Tabungan dan Pinjam Paylater

“Survei ini juga mengungkapkan lima kategori pengeluaran utama di kalangan masyarakat Indonesia. Prioritas utama adalah pendidikan, disusul oleh kebutuhan rumah tangga seperti tagihan listrik, air, dan telepon,” bebernya.

Selain itu, kata dia, konsumsi makanan melalui layanan antar online pun menjadi pengeluaran yang signifikan, seiring dengan meningkatnya popularitas layanan tersebut di era digital. 

Berdasarkan survei ini, 27 persen responden mengaku telah meningkatkan pengeluaran mereka dibandingkan tahun sebelumnya, sementara 30 persen lainnya berupaya mengurangi pengeluaran mereka, dan sisanya memilih untuk mempertahankan pengeluaran pada tingkat yang sama.

Meski ada kekhawatiran finansial yang mendalam, survei ini juga menunjukkan bahwa keinginan untuk menabung tetap tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama generasi Gen Z. 

Sebanyak 36 persen responden menyatakan minat untuk menambah jumlah uang yang ditabung, dengan kelompok Gen Z menjadi yang paling antusias dalam hal menabung. 

“Fakta ini mencerminkan optimisme dan kesadaran finansial yang semakin meningkat di kalangan generasi muda Indonesia, yang tampaknya semakin sadar akan pentingnya menjaga stabilitas keuangan di masa depan,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

55 mins ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

2 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

2 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

3 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

4 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

5 hours ago