News Update

Survey PwC: 76% Bank Khawatirkan Fintech

Jakarta – Mayoritas bank khawatir bahwa sebagian dari bisnis mereka akan diambil alih oleh pendatang baru, FinTech yang dapat memahami dengan lebih baik kebutuhan nasabah yang terus berevolusi. Seiring langkah bank untuk memperbaiki pelayanan nasabah, banyak bank yang menjalin kemitraan dengan perusahaan FinTech, dan nasabah yang akan merasakan manfaatnya.

Hal tersebut terungkap dalam temuan utama mengenai perbankan dari Survei FinTech Global PwC tahun 2016. Survey tersebut mengumpulkan pendapat dari responden di 46 negara yang sebagian besar terdiri dari Chief Executive Officer, Kepala Bagian Inovasi, Chief Information Officers (CIOs) dan jajaran manajemen yang terlibat dalam digital dan transformasi teknologi di lima benua. Bagian yang berfokus pada perbankan berdasarkan tanggapan dari 163 responden dari bank di seluruh dunia.

Sebanyak 76% responden perbankan dalam survei berpendapat bahwa FinTech menimbulkan risiko bagi sebagian bisnis mereka. Mereka melihat bahwa perusahaan start ups menjalin hubungan langsung dengan pengguna akhir, dan tidak lagi melalui bank. Tidaklah mengejutkan, bahwa menurunnya pangsa pasar dan tekanan margin dianggap sebagai tantangan utama di industri perbankan.

Tiga perempat responden survei melihat peningkatan fokus pada nasabah sebagai dampak utama FinTech bagi bisnis mereka. Orientasi pada nasabah dianggap sebagai titik lemah bank tradisional, namun orientasi terhadap nasabah merupakan keunggulan perusahaan startup. Pendatang baru mengidentifikasi rasa frustasi nasabah sebagai peluang dalam membangun solusi untuk menangani rasa frustasi tersebut, sementara bank tradisional masih tertinggal dalam upaya untuk memberikan perbaikan tambahan.

Hal ini menjelaskan mengapa persaingan antara bank dan pendatang baru mulai mengarah kepada kolaborasi langsung. Bank merupakan perusahaan yang paling aktif di sektor keuangan dalam menjalin kemitraan dengan FinTech. Sebanyak 42% responden perbankan dalam survei mengatakan mereka menjalin kemitraan bersama dan menggalang dana ventura untuk membiayai perusahaan FinTech.

Manoj Kashyap, Global FinTech leader PwC, mengatakan, nasabah menginginkan kenyamanan, personalisasi, aksesibilitas dan kemudahan penggunaan. Untuk memenuhi pengharapan ini, bank dan FinTech harus berfokus pada peluang yang dapat memanfaatkan keunggulan satu sama lain, apakah rancangan dan pengembangan produk oleh start up, atau kemampuan distribusi dan infrastruktur oleh bank. Pasalnya, FinTech unggul dalam menawarkan kesederhanaan produk dan integrasi yang sempurna, namun mereka tidak memiliki keamanan TI yang sesuai dan kepastian dari segi peraturan yang dimiliki oleh bank.

“Kami mencermati kedua belah pihak menyadari adanya peluang untuk menjalin kerjasama baru yang saling menguntungkan dan pada akhirnya nasabah lah yang dapat merasakan manfaatnya,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa 16 Agustus 2016.

Namun Kashyap mengingatkan bahwa meskipun kerjasama antara bank tradisional dan pendatang baru sangat penting, masih terlalu dini untuk melakukannya dan menyepakati cara yang optimal untuk bekerjasama dapat memakan waktu.

“Sementara ini, bank harus mulai menyederhanakan produk dan jasa untuk mempermudah perbandingan antara pemain pasar dan mengurangi kebingungan klien. Di saat yang bersamaan, penting bagi bank untuk merancang produk dengan memperhatikan pengalaman pengguna dan tidak mengadopsi pendekatan ‘proses sesuai panduan perancangan’ yang lazim dilakukan. Pada akhirnya, bank harus mendengarkan masukan dari nasabah dan segera mengembangkannya menjadi penawaran. Tindakan ini harus segera diambil meskipun terdapat gangguan yang disebabkan oleh FinTech” imbuh Kashyap.

David Wake, Financial Services Leader PwC Indonesia,  mengaku menemukan “titik yang ideal” antara persaingan dan kerjasama dimana bank tradisional dan FinTech benar-benar bekerjasama mungkin akan sulit. Namun setelah modus operandi ditetapkan, maka kedua belah pihak akan menangguk keuntungan.

“Hanya dengan cara demikian maka bank dapat membendung arus disagregasi model bisnis yang disebabkan oleh pendatang baru di ruang FinTech melalui kemitraan dengan bank tradisional telah maju. FinTech akan mendapatkan kepercayaan nasabah, data klien dan pengakuan yang dapat membuat mereka maju,”tambahnya.(*)

 

Editor : Apriyani K

admin

Recent Posts

IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 2,83 Persen ke Posisi 7.874, Seluruh Sektor Tertekan

Poin Penting IHSG lanjut melemah tajam – Pada sesi I (6/2), IHSG ditutup turun 2,83%… Read More

5 mins ago

Moody’s Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Airlangga: Perlu Penjelasan Soal Peran Danantara

Poin Penting Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan sovereign credit rating… Read More

15 mins ago

Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo

Poin Penting Penurunan outlook dari stabil ke negatif dinilai Celios sebagai peringatan terhadap arah kebijakan… Read More

42 mins ago

Danamon Pede AUM Tumbuh 20 Persen di 2026, Ini Pendorongnya

Poin Penting Danamon targetkan AUM wealth management tumbuh 20 persen pada 2026, melanjutkan capaian 2025… Read More

2 hours ago

Moody’s Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Poin Penting Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat… Read More

2 hours ago

Fundamental Solid, Bank Mandiri Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Poin Penting Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen pada 2025, Bank Mandiri mencatatkan aset… Read More

3 hours ago