Nasional

Survei Jobstreet: Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik

Poin Penting

  • Survei Jobstreet by Seek menunjukkan 82 persen pekerja Indonesia merasa bahagia atau sangat bahagia di tempat kerja, tertinggi di kawasan Asia Pasifik
  • Meski gaji lebih tinggi masih diinginkan, pendorong utama kebahagiaan pekerja adalah keseimbangan kehidupan kerja dan tujuan kerja
  • Pekerja sektor teknologi menjadi yang paling bahagia (93 persen) berkat fleksibilitas kerja, meski 54 persen di antaranya khawatir pekerjaannya terancam oleh AI.

Jakarta – Platform ketenagakerjaan Jobstreet by Seek merilis laporan terbaru bertajuk “Workplace Happiness Index”, dengan pandangan lengkap mengenai pengukur dan penentu kebahagiaan para pekerja di kawasan Asia Pasifik.

Di Indonesia sendiri, laporan ini disusun berdasarkan survei daring yang dilakukan oleh lembaga riset Nature pada bulan Oktober sampai November 2025 terhadap sekitar 1.000 individu di pasar kerja Indonesia dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan pekerja tertinggi di antara negara Asia Pasifik lainnya yang disurvei, di mana 82 persen responden menyatakan bahwa mereka merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja.

Bila dirinci lebih spesifik lagi, sebanyak 37 persen responden Indonesia menyatakan sangat bahagia, 45 persen menyatakan bahagia, 15 persen menyatakan netral, dan hanya 2 persen kurang bahagia serta 1 persen yang sangat tidak bahagia.

Baca juga: UU Cipta Kerja Dinilai Tarik Mundur Kesejahteraan Pekerja Tekstil dan Alas Kaki

Persentase itu melampaui negara-negara dengan pasar kerja yang lebih kompetitif seperti Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), dan Australia (57 persen).

Ketiga negara tersebut sekaligus menjadi negara dengan indeks kebahagiaan terendah di kawasan. Rendahnya indeks kebahagiaan di negara-negara itu disinyalir akibat korelasi terhadap budaya kerja yang lebih kompetitif dan tekanan biaya hidup.

Kondisi berikutnya ada New Zealand dengan 65 persen, Tailan 67 persen, Malaysia 70 persen, dan Filipina 77 persen.

Meskipun gaji yang lebih tinggi tetap menjadi keinginan utama bagi 54 persen pekerja, data menunjukkan bahwa pendorong kebahagiaan yang sebenarnya adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan tujuan kerja (purpose).

Elemen spesifik yang paling membuat pekerja Indonesia bahagia meliputi rekan kerja/tim (77 persen), lokasi tempat kerja (76 persen), tujuan kerja atau perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna (75 persen), komitmen pada ESG (75 persen), dan work life balance (74 persen).

Sementara dari sisi sektoral industri, terlihat mereka yang bekerja di sektor teknologi menempati peringkat pertama sebagai pekerja paling bahagia dengan persentase yang menyatakan bahagia sebesar 93 persen, diikuti manufaktur 87 persen serta admin, customer service, dan sales 82 persen.

Padahal, di sisi lain, 54 persen pekerja teknologi merasa khawatir atas kehadiran AI yang membuat pekerjaannya berisiko “hilang”. Persentase kekhawatiran ini melampaui persentase kekhawatiran pekerja di luar sektor teknologi yang sebesar 42 persen.

Acting Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan menjelaskan jika tingginya indeks kebahagiaan pada pekerja di sektor teknologi kemungkinan besar disebabkan oleh adanya budaya fleksibilitas bekerja yang lebih tinggi di sektor teknologi. Hal ini tentu berkontribusi pada work life balance melalui skema-skema bekerja seperti work from home atau work from anywhere.

“Berkaitan dengan teknologi, ya memang kaitannya yang paling happy kalau sudah di teknologi ada work-life balance mungkin gitu ya. Itu mungkin kombinasi (elemen) yang paling komplit,” ujar Wisnu saat media briefing peluncuran laporan Workplace Happiness Index di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.

Baca juga: Skema Rent to Own Jadi Solusi Pekerja Infomal Miliki Rumah

Ia menjelaskan lebih lanjut, survei yang dilakukan Jobstreet ini sendiri menunjukkan tren secara across function atau industri, dan tidak dilakukan secara lebih spesifik menyasar sub sektor industri.

Meskipun begitu, elemen work life balance yang menempati posisi kelima dengan persentase 74 persen sebagai elemen yang paling membuat pekerja Indonesia bahagia, menjadi faktor yang tak bisa dipandang sebelah mata.

“Jadi, memang perusahaan teknologi sendiri juga macam-macam ya. Ada yang work-life balance, ada yang tidak. Kalau misalnya perusahaan teknologi tapi misalnya work-life balance-nya sangat buruk, ya bisa jadi tidak bahagia juga,” tandas Wisnu. (*) Steven Widjaja

Galih Pratama

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

2 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

2 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

3 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

3 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

3 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

5 hours ago