Ilustrasi: BI proyeksikan penjualan eceran di Februari 2026 meningkat. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Februari 2026 meningkat, baik secara bulanan maupun tahunan.
Hal tersebut tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh 6,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 5,7 persen yoy.
Kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh meningkatnya penjualan mayoritas kelompok, terutama kelompok suku cadang dan aksesori dengan indeks sebesar 158,1 atau tumbuh 13,6 persen, perlengkapan rumah tangga lainnya dengan indeks 90,5 atau tumbuh 4,9 persen, dan subkelompok sandang dengan indeks 94,6 atau tumbuh 8,4 persen.
Baca juga: BI: Keyakinan Konsumen Menurun pada Februari 2026
Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 diprakirakan meningkat sebesar 4,4 persen (mtm). Peningkatan tersebut didorong oleh permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.
Sementara, pada Januari 2026, IPR secara tahunan tumbuh sebesar 5,7 persen yoy, terutama didukung oleh pertumbuhan penjualan kelompok barang budaya dan rekreasi dengan indeks 64 atau tumbuh 15,9 persen yoy. Kemudian, makanan, minuman, dan tembakau dengan indeks 315,9 atau tumbuh 8,1 persen yoy, serta subkelompok sandang sebesar 86,3, tumbuh 3,4 perse yoy.
Namun, secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 terkontraksi sebesar 2,7 persen (mtm) sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah HBKN Natal dan Tahun Baru.
Selanjutnya, responden memprakirakan penjualan eceran pada tiga bulan yang akan datang relatif stabil dan meningkat pada 6 bulan yang akan datang. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) April 2026 tercatat sebesar 146,7, relatif stabil dari 146,8 pada periode sebelumnya pasca normalisasi kegiatan karena HBKN Idulfitri 1447 H.
Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp17.000 per USD, BI Diminta Prioritaskan Stabilisasi Nilai Tukar
Sementara itu, IEP pada Juli 2026 tercatat sebesar 149,1, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 135,4, dipengaruhi oleh peningkatan permintaan saat peak season liburan sekolah dan mid season sale.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu April 2026, diprakirakan turun, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026 diprakirakan meningkat.
Hal tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 sebesar 153,9, lebih rendah dibandingkan dengan IEH pada Maret 2026 sebesar 175,7, seiring normalisasi harga pasca HBKN Idulfitri 1447 H.
Sementara itu, IEH Juli 2026 diprakirakan sebesar 157,1, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada Juni 2026 sebesar 156,3, didorong oleh peningkatan harga saat tahun ajaran baru. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting KB Bank fokus pada corporate banking dengan ekspansi kredit yang lebih selektif. Perseroan… Read More
Poin Penting Pendapatan AMAG naik 8,48% menjadi Rp2,79 triliun pada 2025. Laba bersih turun 41%… Read More
Poin Penting Pembiayaan baru WOM Finance tumbuh 9,35 persen (yoy) menjadi Rp5,94 triliun, mendorong kenaikan… Read More
Poin Penting Kasus Amsal mengungkap dugaan mark-up anggaran proyek desa dengan kerugian negara sekitar Rp202… Read More
Poin Penting WOM Finance merombak jajaran komisaris dan direksi melalui RUPS terbaru. Posisi direktur utama… Read More
Poin Penting Pendapatan DCII 2025 tumbuh 40,1 persen yoy menjadi Rp2,5 triliun, didorong operasional data… Read More