Surplus Neraca Perdagangan Diyakini Masih Akan Berlanjut 

Surplus Neraca Perdagangan Diyakini Masih Akan Berlanjut 

kawasan ekonomi khusus
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia yang terus tercatat surplus, membawa angin segar buat perekonomian nasional. Apalagi, hal ini terjadi di tengah kondisi yang tak normal akibat pandemi. Berangsur pulihnya sejumlah sektor usaha yang berorientasi ekspor, bisa dibilang jadi katalis positif surplusnya neraca perdagangan Indonesia yang cukup agresif.

Berbagai pihak mengapreasiasi upaya Kementerian Perdagangan yang membuat tren akan terus berlanjut. 

“Kalau berdasarkan data BPS, ekspor kita mengalami surplus ketika masa pandemi ini sudah mulai berangsur-angsur berkurang khususnya di bidang farm oil dan dan juga beberapa kebutuhan lainnya. Memang tidak sebagus sebelum pandemi, tetapi jika dibandingkan dengan negara lain, itu sudah bagus,” ujar Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi kepada wartawan, Rabu, 6 Oktober 2021.

Menurut Baidowi, kinerja ekspor yang terus tumbuh menopang cukup signifikan pertumbuhan ekonomi. Ia mencatat, kontribusi ekspor terhadap total ekonomi Indonesia (PDB) mencapai 17%

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia Agustus 2021 tercatat mencapai US$4,74 miliar, tertinggi sejak Desember 2006. Suplus di Agustus 2021 sendiri, merupakan surplus ke-16 secara beruntun sejak Mei 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Agustus 2021 sendiri tercatat surplus US$19,17 miliar. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2020 sebesar US$10,96 miliar, bahkan jika tertinggi dibandingkan dalam lima tahun terakhir.

Catatan saja, surplus dagang sepanjang tahun 2020 tercatat sebesar US$21,74 miliar. Dengan waktu yang masih tersisa 4 bulan lagi, sangat besar terbuka peluang, surplus tahun ini bakal melampaui capaian tahun lalu.

DPR melihat, pemulihan permintaan di negara tujuan ekspor utama yakni China dan AS jadi momentum kenaikan ekspor Indonesia. Belum lagi, harga komoditas ekspor khususnya perkebunan kelapa sawit (CPO) dan pertambangan terus membaik. “Ekspor kelapa sawit naik 45,3% sepanjang Januari-Maret 2021. Ekspor batubara naik 8,4% di periode yang sama. Sektor pertambangan yang mengalami penurunan tajam tahun 2020 diperkirakan tahun ini juga mulai tumbuh positif,” tuturnya.

Selain itu, industri manufaktur tercatat sudah membaik dengan indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,2 pada Maret 2021. Ia menjelaskan, jika PMI sudah berada di atas angka 50, artinya perusahaan mulai ekspansi dengan membeli bahan baku yang lebih banyak. Melihat semua paramater tersebut, ia menilai, target pertumbuhan ekonomi versi pemerintah sebesar 7%, seperti pada kuartal kedua 2021, sangat rasional dan berpotensi besar tercapai.

“Dengan catatan, vaksinasi berjalan lancar sesuai target. Belanja pemerintah juga tetap konsisten membantu sektor usaha dan masyarakat yang rentan. Kemudian, kinerja ekspor membaik dan industri manufaktur masuk pada fase ekspansi,” ucap Baidowi.

Di sisi pelaku ekonomi,  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menyatakan sepakat dengan keyakinan Kemendag akan surplusnya neraca perdagangan.

Dia mendukung optimisme Kementerian dibawah pimpinan Menteri Muhammad Lutfi itu. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga memperkirakan surplus neraca dagang Indonesia pada tahun ini akan melampaui realisasi pada tahun lalu. Artinya, nilai surplus diproyeksi bakal lebih dari US$21,73 miliar yang merupakan realisasi pada Januari-Desember 2020. Proyeksi ini berasal dari realisasi surplus dagang Indonesia yang sudah mencapai US$19,17 miliar pada Januari-Agustus 2021.

“Optimis-optimis, harus bisa. Karena potensi kesempatannya ada. Jadi di Indonesia dianggap mata dunia makin baik reputasinya dari sisi delivery, harga mulai kompetitif, kualitas juga bagus,” cetus Haryadi.

Hariyadi sendiri tak segan mengapresiasi sejumlah langkah yang dilakukan Menteri Muhammad Lutfi dan jajarannya di tengah situasi yang tidak normal. “Menurut saya bagus ya, karena situasinya betul-betul tidak normal. Apapun yang dilakukan dengan situasi tidak normal itu, tentu tingkat kesulitannya tinggi,” ucapnya.

Menurutnya, selain faktor-faktor di atas, Indonesia sejatinya juga diuntungkan dengan situasi perdagangan Amerika dan China dan negra-negara lain yang sibuk dengan urusan penanganan Covid-19. Ia melihat, semua peluang ini dilihatnya dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah. Hanya saja, ia menyarankan pemerintah tak cepat puas. Ia menuturkan, penetrasi pasar ASEAN saja masih terbuka lebar untuk ditingkatkan. Begitu juga pasar Australia yang sudah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia.

Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno menuturkan, lonjakan perdagangan yang terjadi saat ini, berbanding lurus dengan penurunan kasus covid-19 yang juga diupayakan oleh pemerintah. “Dukungan Pemerintah terhadap Dunia usaha sudah banyak melalui program Dana Pemulihan Ekonomi Nasional PEN) termasuk terhadap UMKM,” tukas Benny.

Selain pembenahan di dalam negeri, kinerja ekspor yang melonjak sebenarnya juga tak terlepas dari hasil diplomasi dan pembukaan akses perdagangan. Benny membenarkan, salah satu alasan melonjaknya kinerja ekspor Indonesia adalah karena terbukanya akses pasar ke beberapa negara tujuan ekspor non-tradisional.

“Kementerian Perdagangan membuka akses pasar ekspor ke beberapa negara non-traditional, di antaranya Afrika, Eropa tengah, dan Amerika Selatan, sehingga terjadi lonjakan ekspor,” kata Benny yang dihubungi di Jakarta, Rabu.

Ekonom UI Telisa Aulia Falianty berpendapat senada. Optimisme  Kementerian Perdagangan tersebut sangat beralasan. “Saya setuju dengan pernyataan kemendag yang optimis neraca perdagangan tahun 2021 tetap positif. Sangat realistis karena surplus perdagangan ini terkait naiknya harga komoditas, dan volume ekspor juga meningkat,” ujarnya dihubungi terpisah.

L

Associate Professor FEB UI ini mengatakan, sejumlah faktor mendukung surplus perdagangan ini, antara lain faktor pandemi. Dimana komoditas global yang biasanya lancar, terkendala karena covid. “Permintaan meningkat di bidang energy dan komoditas makanan minuman, sehingga ini menjadi semacam bless in disguise (berkah dalam kesusahan), di lain pihak, karena PPKM, impor kita turun drastis, jadi ini campur, ada promosi ekspor oleh pemerintah, ada faktor global,” tuturnya. (*)

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]