Ilustrasi: Aplikasi Superbank. (Foto: istimewa)
Jakarta – Bank digital besutan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) atau Emtek, yakni Superbank Indonesia dikabarkan tengah mempertimbangkan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
Berdasarkan laporan Bloomberg, 15 Januari 2025, yang mengutip sumber yang tak disebutkan namanya, Superbank sedang mendekati sejumlah bank untuk menggarap potensi penjualan saham yang dapat membantunya mengumpulkan dana segar USD200 juta hingga USD300 juta atau sekira Rp3,25 triliun hingga Rp4,88 triliun (asumsi kurs dolar Rp16.298)
“Bank digital ini mungkin akan mencari valuasi sebesar USD1,5 miliar hingga USD2 miliar dalam potensi IPO tersebut,” kata sumber tersebut.
Bank yang awalnya bernama PT Bank Fama International ini disokong platform aplikasi Grab Holdings Ltd. dan Singapore Telecommunications Ltd., yang dikenal sebagai Singtel, dan KakaoBank Corp.
“Pertimbangan (IPO) masih bersifat awal dan mungkin tidak menghasilkan kesepakatan. Rincian seperti nilai dan ukuran masih bisa berubah,” tambah sumber tersebut.
Baca juga: Jurus Superbank Gaet 2 Juta Nasabah dalam 4 Bulan
Perwakilan Emtek dan Singtel belum memberikan responsnya terkait kabar IPO ini. Sementara Grab dan KakaoBank menolak berkomentar.
Sementara, Head of Corporate Finance and Investor Relations Superbank, Ekaputra Aditya mengatakan pihaknya tidak dapat mengometari rumor atau spekulasi terkait aksi IPO Superbank ini.
Hingga kuartal III 2024, Superbank masih membukukan kerugian. Per September 2024, perseroan mencatatkan kerugian Rp285,73 miliar, naik 12,17 year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp254,74 miliar
Dikutip dari laporan keuangan publikasi edisi September 2024, kinerja keuangan bank yang dipimpin Tigor M Siahaan sebagai presiden direktur ini sebenarnya cukup solid.
Hal ini tercermin, dari kinerja intermediasi. Per September 2024, penyaluran kredit Superbank melesat 189,09 persen yoy dari Rp1,69 triliun menjadi Rp4,89 triliun. Adapun pendapatan bunga bersih Superbank tercatat Rp399,01 miliar per September 2024, melonjakan 99,64 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp199,95 miliar.
Pertumbuhan kinerja juga terjadi pada sisi pengimpunan dana. Dana Pihak Ketiga (DPK) Superbank terbang 328,07 persen, dari Rp757,03 miliar menjadi Rp3,24 triliun pada September 2024.
Namun dari sisi efisiensi bank memburuk. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Superbank tercatat 159,37 persen pada September 2024.
Rasio BOPO tersebut dinilai tidak ideal, meski mengalami penurunan dibanding tahun lalu yang sebesar 210,68 persen. Mengingat Bank Indonesa telah menetapkan benchmark rasio BOPO ideal, yakni maksimal di angka 85 persen. Artinya, makin tinggi rasio BOPO menunjukkan semakin tidak efisiennya perbankan dalam menjalankan usahanya.
Baca juga: Adu Laba Bank Digital per September 2024, Siapa Juaranya?
Selanjutnya, kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment membengkak 78,51 persen menjadi Rp75,39 miliar pada September 2024, dari sebelumnya di periode yang sama sebesar Rp42,23 miliar.
Alhasil, rugi operasional Superbank di kuartal III 2024 mencapai Rp290,72 miliar, naik 13,59 persen yoy dari sebelumnya Rp255,93 miliar.
Sementara dari rasio profitabilitas seperti return on assets (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing tercatat -5,45 persen dan -7,80 persen. Posisi kedua rasio ini menandakan bahwa bank belum bisa menghasilkan laba alias rugi.
Sementara menutup 9 bulan pertama di 2024, Superbank berhasil mencatatkan total aset Rp9,71 triliun per September 2024. Aset ini naik sebesar 76,63 persen, dari Rp5,50 triliun di tahun sebelumnya di periode yang sama. (*)
Poin Penting OJK optimistis premi asuransi tumbuh pada 2026 seiring membaiknya konsolidasi industri dan penguatan… Read More
Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More
Poin Penting Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (yoy) pada kuartal IV 2025, tertinggi dalam empat kuartal… Read More
Poin Penting Pemerintah resmi menghentikan subsidi motor listrik pada 2026, melanjutkan kebijakan tanpa insentif sejak… Read More
Poin Penting OJK mencatat jumlah polis asuransi kesehatan mencapai sekitar 21 juta, sebagai bagian dari… Read More
Poin Penting OJK menyoroti indikasi proyek fiktif di fintech lending dan menegaskan praktik fraud akan… Read More