Suku Bunga BI Naik, Begini Efeknya ke Pasar Modal

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti adanya kenaikan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak 25 basis poin atau menjadi enam persen memberikan pengaruh kepada minat investor untuk masuk ke pasar modal Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan bahwa hal itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami pelemahan sekitar 1,6 persen secara ytd ke level 6.741 per 23 Oktober 2023.

Baca juga: BEI Optimistis Pasar Modal Bergairah Selama Tahun Politik, 2 Sektor Ini Bakal Cuan

“Tentunya ada sedikit koreksi ya, per 23 Oktober 2023, indeks mengalami koreksi tercatat 6.741 atau koreksi sebesar 1,6 persen ytd, sementara dari market cap juga alami tekanan dan tercatat Rp10.445 triliun,” ucap Inarno dalam sambutannya pada CMES 2023 di Jakarta, 26 Oktober 2023.

Lebih lanjut, Inarno pun menegaskan akan terus memantau kondisi perekonomian dan pasar modal Indonesia, melalui langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Lalu, para investor juga diimbau untuk waspada terhadap keadaan ekonomi global yang diperkirakan dapat memberikan dampak negatif kepada kinerja perusahaan maupun harga sahamnya.

“Para investor perlu juga untuk memperkuat pemahaman dengan ekonomi global yang dapat berdampak kepada kinerja perusahaan dan harga saham,” imbuhnya.

Sementara, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), turut membenarkan adanya penurunan minat terhadap instrumen saham yang disebabkan oleh tingginya tingkat suku bunga di domestik maupun global.

“Kalau kita melihat suku bunga yang naik terus di domestik maupun di global, kemudian mengakibatkan obligasi Pemerintah naik itu otomatis minat terhadap instrumen pada saham turun, masyarakat memilih investasi di pasar modal lain seperti obligasi,” ujar Jeffrey dalam kesempatan lain.

Baca juga: OJK Optimistis Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Rp200 T Bakal Terealisasi, Ini Pendorongnya

Adapun, total penghimpunan dana di pasar modal per 20 Oktober 2023 tercatat mencapai Rp204 triliun, dengan penerbitan 177 emisi, 67 emiten baru, 65 emiten saham dan dua emiten efek bersifat utang atau sukuk.

Sementara itu, pertumbuhan investor pasar modal hingga 19 Oktober 2023 telah mencapai 11,83 juta investor atau single investor identification (SID) meningkat empat kali lipat dalam lima tahun terakhir, di mana mayoritas masih didominasi milenial dan Gen Z di bawah 30 tahun dengan persentase sebesar 57,4 persen. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

20 mins ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

4 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

13 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

14 hours ago

UMP 2026 Tuai Pro Kontra, Kadin Tekankan Pentingnya Jaga Daya Saing Indonesia

Poin Penting Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai penetapan UMP 2026 memiliki pro dan… Read More

14 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

14 hours ago