Subsidi Energi Capai Rp502 T, Ketua MPR: Tak Ada Negara yang Berikan Subsidi Sebesar Itu

Subsidi Energi Capai Rp502 T, Ketua MPR: Tak Ada Negara yang Berikan Subsidi Sebesar Itu

Subsidi
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Lonjakan harga minyak dunia pada awal April 2022 diperkirakan mencapai USD98 per barel. Angka ini jauh melebihi asumsi APBN 2022 yang sebesar USD63  per barel. Di sisi lain, beban subsidi untuk BBM, Pertalite, Solar, dan LPG, sudah mencapai Rp502 triliun.

Demikian disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat pidato Sidang Tahunan MPR Dalam Rangka Laporan Kinerja Lembaga-Lembaga Negara, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. Menurutnya, subsidi energi untuk BBM, Pertalite, Solar, dan LPG, yang sudah mencapai Rp502 triliun perlu diredam.

“Kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi, tentunya akan menyulitkan kita dalam mengupayakan tambahan subsidi, untuk meredam tekanan inflasi. Tidak ada negara yang memberikan subsidi sebesar itu,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, pada bulan September 2022, Indonesia diprediksi akan menghadapi ancaman hiper-inflasi, dengan angka inflasi pada kisaran 10 hingga 12 persen. Laju kenaikan inflasi, disertai dengan lonjakan harga pangan dan energi, semakin membebani masyarakat, yang baru saja bangkit dari pandemi Covid-19.

Di sisi lain, kata dia, Presiden Jokowi sudah mengingatkan, bahwa ancaman krisis global saat ini ada di depan mata. Ada sekitar 320 juta penduduk dunia berada dalam kondisi kelaparan akut. Menurut data IMF dan Bank Dunia, perekonomian 66 negara diprediksi akan bangkrut dan ambruk.

“Pelambatan dan kontraksi pertumbuhan ekonomi global, semakin diperburuk oleh tingginya kenaikan inflasi,” ucap pria yang akrab disapa Bamsoet ini.

Namun, berkat kesigapan Pemerintah dalam menyikapi ancaman krisis, dari hasil survey Bloomberg, Indonesia dinilai sebagai negara dengan resiko resesi yang kecil, hanya tiga persen, sangat jauh jika dibandingkan dengan rata-rata negara Amerika dan Eropa, yang mencapai 40 hingga 55%, ataupun negara Asia Pasifik pada rentang antara 20 hingga 25%.

“Namun, kita tidak boleh lalai. Kenaikan inflasi dapat menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Badan Pusat Statistik mencatat, bahwa per Juli 2022, laju inflasi Indonesia berada di level 4,94%, dan pada bulan Agustus diprediksi akan meningkat pada kisaran 5 hingga 6%,” paparnya. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]