Ketua Bidang IT & Operation Perbanas, Toto Prasetio, dalam acara Growth Summit 2025 yang digelar Moengage dan Infobank Digital, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025. (Foto: Zaenal Abdurrani)
Jakarta – Distrupsi digital menjadi salah satu tantangan utama di dunia perbankan di era moderen saat ini. Bank pun harus menyiapkan berbagai solusi dalam menjawab tantangan tersebut.
Ketua Bidang IT & Operation Perbanas, Toto Prasetio, membeberkan tiga solusi dalam menghadapi distrupsi di dunia perbankan. Pertama, perlu adanya modernisasi agar siap dalam sistem digitalisasi.
“Berdasarkan pengalaman saya berkarya di bank, saya mengalami yang namanya kenaikan transaksi itu naiknya eksponensial. Apalagi dengan teknologi-teknologi saat ini harus siap dengan namanya produk atau digitalisasi yang baru,” katanya, dalam acara Growth Summit 2025 yang digelar Moengage dan Infobank Digital, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025.
Solusi kedua berkaitan dengan people. Sejauh mana kesiapan para karyawan dalam menghadapi digitalisasi. Menurutnya, untuk menciptakan sebuah digital produk juga membutuhkan skill set (kumpulan keterampilan) yang memadai.
Baca juga: Ekonom Kadin Wanti-Wanti RI Dibanjiri Produk China Imbas Tarif Trump
Sementara, solusi ketiga yakni terkait cyber security. Di saat kemajuan cyber security semakin berkembang, setiap orang bisa melakukan enkripsi Server Side Rendering (SSR) menjadi lebih cepat.
Ia menambahkan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam distrupsi di dunia perbankan yakni berhubungan dengan data analitik/personalisasi.
“Jadi itu yang harus dipersiapkan agar kita bisa set ke arah situ. mulai dari teknologi, security, personalisasi hingga people menjadi elemen yang penting,” jelasnya.
Toto menyebutkan, personalisasi sangat penting bagi kebutuhan bisnis untuk memiliki customer engagement (interaksi dan hubungan antara brand dengan pelanggan) termasuk di dunia perbankan.
Baca juga: Ekonomi Digital RI Diproyeksi Sumbang 5 Persen PDB pada 2030
“Kalau kita berbicara personalisasi, saat ini sudah bicaranya hyper-personalization. Artinya, kalau kita punya 1 juta pelanggan maka harus punya 1 juta personalisasi. Ini bisa jalan kalau kita memiliki platform yang bagus,” bebernya.
Sebab, jika mengacu pada tren ke depannya, apa yang dilakukan perusahaan/bank akan tergantung kepada customer journey nasabah. Hal ini kata dia yang akan memimpin hyper personalisasi tersebut.
“Kalau berbicara hyper-personalization kita berarti harus mengetahui konsumen kita, perilaku konsumen baik offline maupun online. Semakin banyak data yang kita capture, memungkinan kita untuk melakukan personalisasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi… Read More
Poin Penting Klaim dibayar asuransi umum 2025 naik 4,1 persen menjadi Rp48,96 miliar; lonjakan tertinggi… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap perdamaian berkelanjutan di Palestina dengan solusi… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,03 persen ke 8.271,76. Sebanyak 381 saham terkoreksi, 267 menguat,… Read More
Poin Penting Pendapatan premi asuransi umum sepanjang 2025 naik 4,8% menjadi Rp112,81 miliar. Lini dengan… Read More
Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More