News Update

Strategi Perbankan Hadapi Disrupsi Digital, Ini 3 Jurus Kuncinya

Jakarta – Distrupsi digital menjadi salah satu tantangan utama di dunia perbankan di era moderen saat ini. Bank pun harus menyiapkan berbagai solusi dalam menjawab tantangan tersebut.

Ketua Bidang IT & Operation Perbanas, Toto Prasetio, membeberkan tiga solusi dalam menghadapi distrupsi di dunia perbankan. Pertama, perlu adanya modernisasi agar siap dalam sistem digitalisasi.

“Berdasarkan pengalaman saya berkarya di bank, saya mengalami yang namanya kenaikan transaksi itu naiknya eksponensialApalagi dengan teknologi-teknologi saat ini harus siap dengan namanya produk atau digitalisasi yang baru,” katanya, dalam acara Growth Summit 2025 yang digelar Moengage dan Infobank Digital, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025.

Solusi kedua berkaitan dengan people. Sejauh mana kesiapan para karyawan dalam menghadapi digitalisasi. Menurutnya, untuk menciptakan sebuah digital produk juga membutuhkan skill set (kumpulan keterampilan) yang memadai.

Baca juga: Ekonom Kadin Wanti-Wanti RI Dibanjiri Produk China Imbas Tarif Trump

Sementara, solusi ketiga yakni terkait cyber security. Di saat kemajuan cyber security semakin berkembang, setiap orang bisa melakukan enkripsi Server Side Rendering (SSR) menjadi lebih cepat. 

Ia menambahkan, hal lain yang perlu diperhatikan dalam distrupsi di dunia perbankan yakni berhubungan dengan data analitik/personalisasi.

“Jadi itu yang harus dipersiapkan agar kita bisa set ke arah situ. mulai dari teknologi, security, personalisasi hingga people menjadi elemen yang penting,” jelasnya.

Pentingnya Personalisasi dan Customer Engagement

Toto menyebutkan, personalisasi sangat penting bagi kebutuhan bisnis untuk memiliki customer engagement (interaksi dan hubungan antara brand dengan pelanggan) termasuk di dunia perbankan.

Baca juga: Ekonomi Digital RI Diproyeksi Sumbang 5 Persen PDB pada 2030

“Kalau kita berbicara personalisasi, saat ini sudah bicaranya hyper-personalization. Artinya, kalau kita punya 1 juta pelanggan maka harus punya 1 juta personalisasi. Ini bisa jalan kalau kita memiliki platform yang bagus,” bebernya.

Sebab, jika mengacu pada tren ke depannya, apa yang dilakukan perusahaan/bank akan tergantung kepada customer journey nasabah. Hal ini kata dia yang akan memimpin hyper personalisasi tersebut.

“Kalau berbicara hyper-personalization kita berarti harus mengetahui konsumen kita, perilaku konsumen baik offline maupun online. Semakin banyak data yang kita capture, memungkinan kita untuk melakukan personalisasi,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Aliran Modal Asing Masuk RI Rp1,44 Triliun pada Awal 2026

Poin Penting Aliran modal asing masuk Rp1,44 triliun di awal Januari 2026, mayoritas mengalir ke… Read More

3 hours ago

KPK Tetapkan 5 Tersangka Terkait OTT Dugaan Suap Pajak di KPP Madya Jakut

Poin Penting KPK tetapkan 5 tersangka OTT dugaan suap pajak KPP Madya Jakarta Utara. 3… Read More

4 hours ago

Begini Gerak Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Penguatan IHSG

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,13 persen pada perdagangan Jumat (9/1/2026), meski mayoritas indeks domestik… Read More

4 hours ago

Sempat Sentuh Level 9.000, IHSG Sepekan Menguat 2,16 Persen

Poin Penting IHSG menguat 2,16 persen sepanjang pekan 5-9 Januari 2026 dan sempat menembus level… Read More

5 hours ago

KPK OTT Pegawai DJP di Jakarta Utara soal Pajak Sektor Tambang

Poin Penting KPK gelar OTT pegawai DJP Jakarta Utara terkait dugaan pengaturan pajak di sektor… Read More

17 hours ago

Tingkatkan Kinerja Keuangan, Pollux Hotels Group Terbitkan Obligasi Berkelanjutan

Poin Penting Pollux Hotels Group menerbitkan obligasi berkelanjutan berperingkat AAA, dengan dukungan penuh CGIF yang… Read More

18 hours ago