Keuangan

Strategi OJK Mendukung Perkembangan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia

Jakarta – Sektor jasa keuangan mendukung penuh keuangan berkelanjutan untuk menciptakan pertumbuhan keuangan berkelanjutan (Sustainable Finance) dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Direktur Eksekutif Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Triyono Gani mengungkapkan, OJK memiliki komitmen tinggi untuk mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan. Meski terjadi perlambatan ekonomi akibat pandemi, OJK memegang komitmen jangka panjang tentang keuangan berkelanjutan untuk memastikan kelancaran transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Triyono mengatakan, ada lima langkah strategis OJK dalam mendukung keuangan berkelanjutan. Yaitu Inisiatif taksonomi hijau, operasionalisasi pertukaran karbon sesuai dengan peraturan pemerintah, menyusun kerangka manajemen risiko Industri Jasa Keuangan dan pedoman Pengawasan Berbasis Risiko, mengembangkan rencana pembiayaan atau pendanaan proyek yang inovatif dan layak, serta meningkatkan awareness dan capacity building bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Untuk mempercepat implementasi inisiatif keuangan berkelanjutan, OJK telah menugaskan Satuan Tugas Keuangan Berkelanjutan dan bekerja sama dengan industri untuk membahas tentang Keuangan Berkelanjutan,” ujarnya dalam acara ESG Public Discussion bertajuk “Global and National Outlook for Resilience Amid Recession and Digitalization,” yang digelar Impac+ bersama Infobank dan TBS, Senin 5 Desember 2022.

Selain itu, OJK juga telah menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap I dan II serta sejumlah aturan turunan terkait keuangan berkelanjutan. Peraturan yang telah diterbitkan di antaranya Peraturan OJK Nomor.51/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik, kemudian POJK No.60/2017 tentang Penerbitan Green Bond dan pada tahun 2020, OJK juga telah menerbitkan pedoman dan kebijakan terkait pembayaran insentif kendaraan listrik.

Namun, Triyono melihat masih ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengeluarkan instrumen keuangan hijau dan berkelanjutan. Diantaranya, sumber dana publik yang terbatas, kurangnya insentif untuk pasar negara berkembang, keterbatasan keahlian dan teknologi serta terbatasnya kesadaran masyarakat tentang keuangan berkelanjutan.

“Namun dengan sosialisasi yang tepat kita dapat menarik investor untuk berinvestasi di sektor keuangan yang berkelanjutan,” paparnya.

Selain itu, untuk menghadapi tantangan tersebut, ia juga menilai pengembangan ekosistem keuangan digital sangat diperlukan dalam optimalisasi ekonomi berkelanjutan. Triyono menjabarkan setidaknya ada tiga peran Inovasi keuangan digital atau financial technology yaitu ases pembiayaan yang inovatif untuk investasi hijau yang berkelanjutan, dapat menjadi enabler dan supporting entitas dengan menyediakan infrastruktur untukekosistem digital serta meningkatkan kesadaran dan literasi untuk mendukung penghijauan yang berkelanjutan investasi.

“Saya percaya Indonesia punya kapasitas dan juga kesempatan, yang perlu kita lakukan adalah terus berinovasi menggunakan semua potensi yang ada di Indonesia,” ungkapnya. (*) Dicky F.

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

4 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

4 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

5 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

6 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

6 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

7 hours ago