Dua orang pekerja melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – Pada akhir perdagangan 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat sebanyak 0,62 persen pada level 7.079,90 dari dibuka pada posisi 7.036,57. Ini menunjukkan kinerja pasar modal Indonesia masih positif di sepanjang 2024.
Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), I.B. Aditya Jayaantara, menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih akan mengalami tantangan yang lebih dinamis pada 2025, sehingga diperlukannya kolaborasi dengan para Self-Regulatory Organization (SRO).
“Kami di sini berkomitmen untuk mendukung berbagai program pemerintah termasuk asta cita yang bertujuan untuk memperkuat sektor-sektor ekonomi utama, meningkatkan daya saing, dan mendorong pembangunan perusahaan kita. Tentunya untuk mewujudkan hal tersebut, OJK akan terus berkoordinasi, berkolaborasi dengan teman-teman di SRO,” ucap Aditya dalam Konferensi Pers dikutip, 31 Desember 2024.
OJK bersama SRO seperti PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menyusun sejumlah strategi untuk menghadapi tantangan di 2025.
Untuk menghadapi tahun 2025, OJK telah menyusun kebijakan dalam rangka penguatan regulasi, antara lain dengan menyusun 10 rancangan Peraturan OJK (POJK), antara lain:
Baca juga: BEI Bersama KPEI dan KSEI Kenalkan Kontrak Berjangka Indeks Asing
Pada 2025, BEI menargetkan rerata nilai transaksi saham akan mencapai Rp13,5 triliun/hari. Kemudian, pencatatan efek baru mencapai 407 yang termasuk saham, EBUS, Waran Terstruktur, dan KIK. Sementara untuk pencatatan saham ditargetkan sebanyak 66 saham, dan target 2 juta investor baru.
BEI juga akan merilis beberapa hal, seperti Liquidity Provider (LP) Saham, SPPA Repo EBUS, Intraday Short Selling, E-IPO EBUS, Securities Lending and Borrowing EBUS DJPPR, SPPA Repo EBUS, Market Transparency, Equity Non-Cancellation Period, dan Derivatif Keuangan Licensed Foreign Index Futures.
Dalam menyambut 2025, KPEI telah menyusun fokus rencana kerja yang terbagi dalam tiga bagian, yakni pengembangan produk atau layanan baru, efisiensi proses dan pengawasan terintegrasi, serta teknologi informasi, organisasi, dan Human Capital.
Baca juga: Kinerja BEI 2024: Bawa 41 Perusahaan Melantai di Bursa, Masuk 10 Besar IPO Global
Dari sisi KSEI, di tahun depan akan terus melakukan transparansi perlindungan terhadap investor melalui empat hal, antara lain:
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Permata Bank membagikan dividen Rp1,266 triliun atau Rp35 per saham dari laba 2025.… Read More
Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More
Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More
Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More
Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More