Keuangan

Strategi Adira Finance di Tengah Kelesuan Industri

Jakarta – Bisnis di industri pembiayaan (multifinance) tengah dilanda kelesuan. Hal ini sejalan dengan masih lemahnya daya beli masyarakat lantaran perekonomian nasional yang masih melambat, sehingga penjualan otomotif yang menjadi andalan pembiayaan multifinance pun ikut terdampak.

Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), permintaan pembiayaan kendaraan roda dua dan empat di tahun ini memang masih belum benar-benar pulih meskipun penjualan mobil dan motor sudah menunjukkan peningkatan pada Mei 2017 dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan datanya penjualan mobil pada Mei 2017 naik sekitar 20 persen dibandingkan April 2017. Adapun secara tahunan (year on year/yoy), penjualan mobil naik sekitar 6 persen. Sementara itu, penjualan motor naik sekitar 15 persen dibandingkan April 2017. Namun, penjualan motor masih turun 5 persen secara tahunan.

Untuk mengantisipasi kelesuan pertumbuhan bisnis di industri ini, PT Adira Dinamika Multifinance (Adira Finance) tengah menyiapkan beberapa strategi agar bisnisnya tumbuh positif. Deputi Direktur Adira Finance, Harry Latif mengakui, penjualan otomotif memang tengah mengalami kelesuan. Oleh sebab itu, perseroan akan lebih berinovasi dalam mengeluarkan produknya.

“Memang otomotif pertumbuhannya menurun. Tetapi leasing tetap harus ada. Kami merasa ini suatu pasar tapi saya rasa marketnya masih besar. Bahwa Adira juga harus lebih efisien, harus menciptakan produk-produk sehingga segalanya bisa lebih cepat tapi tetap provit,” ujarnya, di Jakarta, Selasa, 25 Juli 2017.

Dia menambahkan, Adira Finance yang sudah berdiri selama 27 tahun, dianggap memiliki pengalaman yang panjang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kendati demikian, kata dia, Adira Finance tetap harus berbenah diri dalam menyikapi kondisi industri pembiayaan saat ini yang tengah mengalami kelesuan.

“Kita sudah cukup matang, mudah-mudahan Adira masih terlihat cantik. Kita tetap berbenah diri. Lalu kita harus menjalankan digitalisasi, itu satu cara untuk menarik costumer lebih baik. Nah itu kami harus lakukan,” ucapnya.‎

APPI sendiri memperkirakan pertumbuhan pembiayaan untuk semester I 2017 akan ada pada kisaran 9-10 persen atau tidak jauh berbeda dengan perkiraan pertumbuhan pembiayaan pada akhir Mei yang tumbuh kisaran 9 persen. Menurut Ketua APPI Suwandi Wiratno, angka tersebut masih sesuai dengan prediksi pertumbuhan pembiayaan hingga akhir tahun yakni 7-10 persen. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 12 Persen di 2026, Begini Tanggapan Bankir

Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More

39 mins ago

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam Senilai USD 11,04 Juta

Poin Penting PT Asuransi Central Asia (ACA) telah membayarkan klaim sebesar USD 11,04 juta atas… Read More

3 hours ago

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam

PT Asuransi Central Asia (ACA) membayarkan klaim senilai USD 11,04 juta kepada PT PLN Batam,… Read More

3 hours ago

Bank Mandiri Catat Fundamental Solid di 2025, Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025 tercermin dari penyaluran kredit… Read More

4 hours ago

CIMB Niaga Bidik Transaksi Rp45 Miliar di Cathay Travel Fair 2026

Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk membidik nilai transaksi hingga Rp45 miliar dalam penyelenggaraan Cathay… Read More

4 hours ago

Moody’s Turunkan Outlook RI, Purbaya: Hanya Jangka Pendek

Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s hanya bersifat… Read More

4 hours ago