Triwulan IV-2018, Defisit Transaksi Berjalan Naik Lagi Jadi USD9,1 Miliar
Jakarta – Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak 50 basis points (bps) lagi di tahun ini, sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang diprediksi masih akan berfluktuasi hingga 2020. Asal tahu saja, Bank Sentral sudah menaikkan suku bunganya sebanyak 125 bps menjadi 5,50 persen.
Head of Economic Research Danareksa Institute Damhuri Nasution mengatakan, nilai tukar rupiah saat ini masih mungkin bergejolak akibat faktor global seperti normalisasi kebijakan moneter dan ekspansi fiskal AS, serta kekhawatiran perang dagang AS-China yang bisa memicu sentimen negatif terhadap mata uang di negara emerging market.
Adanya kondisi tersebut, kata dia, suku bunga acuan BI-7-Day Repo Rate, pun berpotensi kembali dinaikkan menjadi 5,75 – 6,00 persen di tahun ini, sebagai bentuk antisipasi BI menstabilkan nilai tukar rupiah. Terlebih, kenaikan harga minyak dunia, yang bisa memperlebar defisit transaksi berjalan, dapat menambah katalis negatif rupiah.
Baca juga: Suku Bunga BI Diprediksi Naik Sekali Lagi Hingga Akhir Tahun
“Nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan di bawah nilai fundamentalnya karena faktor eksternal, tapi tekanan tersebut akan mulai mereda pada tahun 2019 dan 2020,” ujar Damhuri dalam risetnya di Jakarta, Rabu, 19 September 2018.
Dia menilai, kebijakan moneter global masih cenderung ketat pada tahun depan dan mulai longgar pada tahun 2020, karena diperkirakan tekanan inflasi mereda dan pertumbuhan ekonomi mengalami moderasi. Dengan kenaikan suku bunga acuan AS, Fed Funds Rate (FFR) dua kali di 2019 yang berarti tidak seagresif tahun 2018, maka volatilitas pasar keuangan akan sedikit mereda.
Menurutnya, upaya yang sudah dilakukan BI sudah tepat dalam meredam depresiasi rupiah, di antaranya menaikkan suku bunga acuannya yang diikuti kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN), sehingga investasi di SUN mulai menarik kembali. Selain itu, BI juga melakukan dual intervention demi menjaga volatilitas rupiah dan likuiditas dan sekaligus stabilisasi pasar SUN.
“Kami perkirakan tekanan terhadap rupiah dapat mereda, untuk akhir tahun 2018 rupiah bisa dikisaran Rp14.400 per dolar AS dan di tahun 2019 sekitar Rp14.300 per dolar AS,” ucapnya. (*)
Poin Penting PINTU tambah 10 token baru, termasuk saham global, ETF, dan obligasi, sehingga investor… Read More
Poin Penting Bank Aladin Syariah bersama Alfamart menyalurkan 60.000 paket makanan di 34 kota dan… Read More
Poin Penting Grab menyebut separuh mitra ojolnya merupakan mantan korban PHK, menunjukkan peran platform sebagai… Read More
Poin Penting OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan… Read More
Poin Penting Tugu Insurance menjalankan program Tugu Green Journey dengan mendaur ulang 1,7 ton limbah… Read More
Poin Penting Tokio Marine Life dan BAZNAS renovasi 5 rumah di Setiabudi, Jakarta, dengan Rp55… Read More