Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan secara virtual, Jumat, (9/1/2026). (Tangkapan layar YouTube Otoritas Jasa Keuangan: Irawati)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih tetap terjaga, meski di tengah dinamika geopolitik hingga perekonomian global masih bergejolak.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyebutkan, secara umum perekonomian global menunjukkan perbaikan meski kinerja ekonomi Tiongkok berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi dengan laju yang termoderasi.
“Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan berlanjut melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi, seiring dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers RDK, Jumat, 9 Januari 2026.
Di Amerika Serikat (AS), perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar.
Baca juga: OJK Yakin Industri Pindar Syariah Tetap Tumbuh di Tengah Kasus Gagal Bayar
Di sisi lain, pasar tenaga kerja di AS menunjukkan tanda moderasi, serta inflasi di November 2025 turun ke 2,7 persen dan inflasi inti turun ke 2,6 persen.
Sementara di Tiongkok, perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga masih tertahan. Dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi dan tekanan di sektor properti masih terus berlangsung.
Mahendra menyatakan perkembangan tersebut mendorong sejumlah bank sentral kembali menumpuh kebijakan akomodatifnya. Federal Reserve atau Bank Sentral AS dan Bank of England di Desember 2025 kembali memangkas suku bunga acuan.
“Namun, Bank Sentral Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasar warsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang,” tambahnya.
Mahendra menilai perbedaan arah kebijakan dari berbagai bank sentral tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan Fed Funds Rate (FFR), meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi.
Baca juga: OJK Optimistis Industri Reasuransi Mampu Penuhi Ekuitas Minimum 2026
“Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar sovereign bond global, seiring dengan praktik berakhirnya, aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut,” jelasnya.
Di awal 2026 pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global.
“Di tengah dinamika global itu, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat, sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga, dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Defisit APBN 2025 tercatat 2,92 persen dari PDB, melebar dari target 2,53 persen,… Read More
Poin Penting Bank Muamalat menegaskan isu dana nasabah hilang tidak benar, karena video viral terkait… Read More
Poin Penting Utang paylater perbankan mencapai Rp26,20 triliun per November 2025, tumbuh 20,34 persen (yoy)… Read More
Poin Penting OJK membentuk Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah untuk mendorong pertumbuhan… Read More
Poin Penting KPK menetapkan Gus Yaqut sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan… Read More
Poin Penting IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,13 persen ke level 8.936,75, dengan transaksi mencapai… Read More