Headline

Sri Mulyani : Kita Rugi Jika Tidak Ikut Pertukaran Informasi Keuangan

Jakarta – Kementerian Keuangan Republik Indonesia menggelar konferensi pers terkait ditetapkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor: 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan Untuk Kepentingan Perpajakan.

Menurut Menteri Keuangan Srimulyani, Indonesia sebagai negara yang masuk dalam G20 memang sudah seharusnya mengikuti, karena hal ini sudah disepakati komitmennya untuk keikutsertaan dalam mengimplementasikan pertukaran informasi keuangan secara otomatis (Automatic Exchange of Financial Account Information) atau AEOI.

Jika Indonesia tidak ikut, lanjut Srimulyani maka akan sangat merugikan, karena sudah ada 100 negara yang berniat mengikuti AEOI. Dimana 50 negara berkomitmen melaksanakan di tahun ini.

“Kita ingin keseluruhan tata kelola negara kita sama dengan negara-negara lain, sehingga tidak dirugikan. Jika tidak ikut, maka kita tidak bisa mendapat akses informasi dari negara-negara partner atau negara yuridiksi yang lain,” kata Srimulyani di Kantor Kementrian Keuangan Jakarta, Kamis, 18 Mei 2017.

Srimulyani sendiri memastikan bahwa pihaknya akan membuat aturan yang mengatur secara ketat sehingga ketentuan pengaturan pajak tidak disalahgunakan setelah hal ini di berlakukan.

Selain itu pihaknya juga memastikan bahwa nantinya sistim pertukaran informasi akan mengikuti protocol standard international.

Dengan begitu reformasi dibidang pajak kedepan akan semakin baik dan bisa membangun kredibilitas di direktorat pajak.

“Kita memastikan seluruh Direktorat pajak, akan bekerja untuk kepentingan nasional, bukan pribadi,” jelasnya.

Sekedar informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor: 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan Untuk Kepentingan Perpajakan.

Dengan begitu Direktur Jenderal Pajak (DJP) berwenang mendapatkan akses informasi keuangan untuk kepentingan perpajakan dari lembaga jasa keuangan yang melaksanakan kegiatan di sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, lembaga jasa keuangan lainnya, dan/atau entitas lain yang dikategorikan sebagai lembaga keuangan sesuai standar pertukaran informasi keuangan berdasarkan perjanjian internasional di bidang perpajakan.

Lembaga jasa keuangan, lembaga jasa keuangan lainnya, dan/atau entitas lain sebagaimana dimaksud, tegas Perppu ini, wajib menyampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Modal Kuat dan Spin Off, OJK Optimistis Premi Asuransi Tumbuh

Poin Penting OJK optimistis premi asuransi tumbuh pada 2026 seiring membaiknya konsolidasi industri dan penguatan… Read More

13 mins ago

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

4 hours ago

Menko Airlangga Pamer Capaian Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, di Atas Negara-Negara Besar

Poin Penting Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (yoy) pada kuartal IV 2025, tertinggi dalam empat kuartal… Read More

4 hours ago

Pemerintah Stop Subsidi Motor Listrik di 2026, Adira Finance: Penurunan Kredit Signifikan

Poin Penting Pemerintah resmi menghentikan subsidi motor listrik pada 2026, melanjutkan kebijakan tanpa insentif sejak… Read More

5 hours ago

Asuransi Kesehatan Kian Menguat, OJK Catat 21 Juta Polis

Poin Penting OJK mencatat jumlah polis asuransi kesehatan mencapai sekitar 21 juta, sebagai bagian dari… Read More

5 hours ago

OJK Soroti Indikasi Proyek Fiktif di Fintech Lending, Minta Penguatan Tata Kelola

Poin Penting OJK menyoroti indikasi proyek fiktif di fintech lending dan menegaskan praktik fraud akan… Read More

5 hours ago