Moneter dan Fiskal

Sri Mulyani Ungkap 60 Negara Sedang Krisis Utang, RI Termasuk?

Jakarta – Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan sebanyak 60 negara tengah memiliki permasalahan atau krisis utang yang tinggi. Hal ini dikarenakan banyak negara yang tidak mengelola fiskalnya secara disiplin.

“Kita udah lihat udah banyak negara latin Amerika dari tahun 80-90 banyak yang mengalami kondisi krisis utang, negara-negara Afrika sekarang dan banyak middle income ada 60 negara dalam kondisi vulnerable utangnya,” ujar Sri Mulyani dalam Kuliah Umum Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang, Senin 23 Oktober 2023. 

Baca juga: Turun Tipis, Utang Luar Negeri RI Masih Rp6.208 Triliun

Dalam hal ini, Indonesia sejak dihantam Covid-19 di mana negara harus mengalokasikan anggaran untuk penanganan pandemi dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sri Mulyani pun melakukan pelonggaran defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar -3 persen yang dilakukan hanya dalam waktu 3 tahun.

Dia pun menceritakan bahwa dirinya banyak mendapat pertanyaan dan kritikan, saat pelonggaran defisit saat itu. Namun, terbukti Indonesia berhasil defisit di atas -3 persen hanya dalam waktu 3 tahun.

“Banyak rating agency menanyakan ke saya, Sri Mulyani how do you know that the pandemi is going to over with in 3 years, saya mengatakan do you know? no i don’t, well the same with me, i also don’t know. So why you desain the budget is only allowing to deficit above 3 percent of GDP only for 3 years?,” tutur Menkeu.

Baca juga: Utang Luar Negeri RI Naik Lagi, Sekarang Segini Totalnya

Menkeu menjelaskan, pada 2020 defisit APBN sempat tembus -6,1 persen untuk pertama kalinya dan terus menurun pada 2021 menjadi -4,6 persen dan sudah kembali di bawah 3 persen pada 2022 dengan -2,4 persen. Hal ini sesuai rencana pemerintah dengan disiplin APBN.

“Indonesia tahun 2020 defisit -6,1 persen, sesudah itu 2021 kita terus melakukan pemulihan Kesehatan, ekonomi dan APBN, sehingga tahun 2022 waktu kita buat Perpu 1 tahun 2020, waktu itu APBN hadir dan mengatakan defisit boleh diatas -3 persen dari GDP tapi hanya untuk 3 tahun,” jelasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

6 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

7 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

7 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

13 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

14 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

14 hours ago