Gedung PT PLN (Persero). Foto: Istimewa.
Jakarta –Lembaga pemeringkat kredit Standard & Poor’s (S&P) telah menaikkan peringkat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) menjadi “BBB” dari yang sebelumnya “BBB-“, dengan outlook stabil.
Berdasarkan rilis yang dipublikasi perusahaan, Minggu, 2 Juni 2019, kenaikan rating ini merupakan yang kedua kali dilakukan oleh S&P bagi PLN dalam waktu kurang dari satu tahun, setelah sebelumnya dinaikkan ratingnya menjadi BBB- pada bulan Agustus 2018.
S&P memiliki keyakinan bahwa PLN secara berkesinambungan memiliki peran sangat strategis bagi Idonesia, dan PLN pasti akan senantiasa mendapatkan dukungan yang berkesinambungan dan luarbiasa dari Pemerintah Indonesia.
Kenaikan peringkat ini sejalan dengan dinaikkannya rating Pemerintah Indonesia, dengan dasar bahwa S&P melihat adanya prospek pertumbuhan yang solid, dan berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah di masa mendatang adalah kebijakan yang stabil, pruden dan kondusif untuk pertumbuhan ekonomi.
Beberapa hari lalu, PLN baru saja merilis laporan keuangan dengan performa yang solid dalam periode tahun 2018. Perusahaan mencatatkan laba bersih tahun 2018 sebesar Rp11,6 triliun atau tumbuh 162% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya Rp4,42 triliun.
Peningkatan laba ini ditopang oleh beberapa faktor, salah satunya adalah peningkatan konsumsi listrik yang membuat penjualan mengalami kenaikan.
Selain itu, juga ditunjang dengan efisiensi yang terus menerus dilakukan perusahaan, serta dukungan dari adanya kebijakan DMO batu bara dari pemerintah.
Seperti diketahui bahwa pada tahun 2018 Pemerintah memberikan dukungan kepada PLN dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1395.K/30/MEM/2018 sebagaimana diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1410.K/30/MEM/2018, yang menetapkan harga khusus batu bara bagi kebutuhan tenaga listrik dalam negeri sebesar US$70 per ton jika HBA berada di atas angka tersebut. Sementara itu, jika HBA berada di bawah US$70 per ton, maka PLN tetap membayar sesuai harga HBA tersebut.
Kenaikan credit rating ini, menggambarkan bahwa tingkat risiko investasi di PLN menurun, dan dengan demikian kepercayaan investor kepada PLN akan semakin meningkat, sehingga hal ini akan semakin meningkatkan kepercayaan diri PLN dalam membangun infrastruktur ketenagalistrikan.
Kenaikan rating ini juga akan turut berkontribusi bagi PLN dalam mendapatkan cost of fund yang kompetitif untuk mendanai Proyek 35 GW, melistriki daerah 3 T (terdepan, terluar dan tertinggal), meningkatkan rasio elektrifikasi, serta mendukung upaya memberikan tarif yang kompetitif bagi industri, bisnis dan masyarakat. (*)
Poin Penting PT Bank Amar Indonesia Tbk menyatakan siap memenuhi ketentuan permodalan baru jika OJK… Read More
Poin Penting AXA Mandiri menjaga stabilitas permodalan melalui pengawasan ketat terhadap rasio solvabilitas (Risk Based… Read More
Poin Penting BTN memperluas layanan consumer banking dan beyond mortgage, termasuk kartu kredit, BNPL, dan… Read More
Poin Penting KISI menyiapkan 7–8 perusahaan untuk IPO tahun 2026, meliputi sektor perbankan, pariwisata, pertambangan,… Read More
Poin Penting AXA Mandiri mencatat pendapatan premi Rp10 triliun pada 2025, dengan produk unitlink menyumbang… Read More
Poin Penting Suku Bunga BI Tetap: BI menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada level… Read More