Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini (2/6) diperkirakan akan kembali mengalami depresiasi terbatas, akibat tekanan laju inflasi dan sentimen negatif dari keputusan Standard & Poor’s (S&P) yang di luar ekspektasi pasar.
“Meski laju dollar AS yang cenderung melemah terhadap yen dan euro, namun tidak juga berimbas positif pada laju rupiah yang awalnya dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menguat,” ujar analis PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada dalam risetnya, di Jakarta, Kamis, 2 Juni 2016.
Namun demikian, dirinya berharap agar laju rupiah hanya melemah terbatas, dan memiliki ruang untuk berbalik ke jalur apresiasi. “Saat ini support rupiah di level 13.685, sedangkan resisten di level 13.665. Tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju rupiah,” tukasnya.
Sementara di sisi lain, lanjut dia, laju inflasi Mei yang sebesar 0,24% (month-to-month) telah mendorong inflasi secara year-to-date sebesar 0,4% dan secara year-on-year menjadi 3,33%. Sehingga, kata dia, kondisi tersebut menekan laju rupiah terhadap dollar AS.
Selain itu, pergerakan rupiah juga tertekan oleh sentimen S&P yang memutuskan peringkat utang Indonesia di level BB+ dengan outlook positif atau di luar ekspektasi sebelumnya yang diperkirakan akan berada pada posisi investment grade.
“Dengan sentimen-sentimen tersebut membuat rupiah kembali mengalami pelemahan. Inflasi yang melonjak dari bulan sebelumnya dan belum adanya kabar kenaikan rating Indonesia memberikan tekanan pada rupiah,” tutup Reza. (*)
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More