Perbankan

Sosialisasi hingga Permodalan Masih jadi Tantangan Perbankan Syariah

Jakarta – Tahun 2022 menjadi tahun percepatan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator perlu dukungan semua pihak agar market share atau pangsa pasar perbankan syariah bisa meningkat pesat. Adapun saat ini share perbankan syariah di Indonesia masih diangka 6,7% atau relatif cukup lambat.

Demikian disampaikan Deputi Direktur Pengembangan Perbankan Syariah OJK, Farid Faletehan dalam Talkshow bertema “Peluang dan Tantangan Ekonomi Syariah Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Pusat Produsen Halal Terkemuka Dunia” yang digelar Infobank bersama KNEKS, Kamis, 14 April 2022. Menurutnya, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi perbankan syariah yaitu dari sisi sosialisasi dan permodalan.

“Jadi kalau kita melihat dari hasil survey inklusi keuangan konvensional sudah mencapai 76% sementara perbankan syariah sekitar 11% , dan literasinya masih lebih kecil lagi itu menjadi tantangan, bisa dikatakan masyarakat pemahaman terhadap perbankan syariah masih relatif kecil, kami butuh dukungan semua pihak, ini menjadi tantangan berat,” ujar Farid.

Dari sisi permodalan, lanjut dia, saat ini hanya Bank Syariah Indonesia (BSI) saja yang memiliki modal sangat besar dan mampu bersaing dengan konvensional. Kondisi ini, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan syariah. Maka dari itu, OJK pun menyusun Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia sebagai langkah untuk penguatan perbankan syariah.

“Tentunya dengan penguatan modal. Perbankan syariah minimal harus Rp3 triliun, syariah porsinya baru 6,7%,” jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perbankan syariah, OJK juga akan terus mendorong percepatan ekonomi syariah, salah satunya dengan adanya Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk mempertemukan pengusaha halal dengan lembaga syariah.

“Diharapkan nanti para pengusaha ini bisa mengakses pembiayaan melalui fasilitasi oleh Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah, jadi untuk mewujudkan itu silahkan nanti dimanfaatkan karena tim itu bisa sesuai dengan kebutuhan pembiayaan, katakana lah usaha ini butuh pembiayaan dari pasar modal nanti bisa didatangkan dari pasar modal,” tutup Farid Faletehan. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

3 hours ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

3 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

3 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

4 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

5 hours ago