Teknologi

Software Engineer Multipolar Ingatkan Bahaya Kebocoran Data Open Banking


Jakarta – Open banking adalah sistem di mana data keuangan dibagi antara bank dan penyedia layanan pihak ketiga. Open banking memiliki sejumlah manfaat mulai dari munculnya sistem pembayaran baru sampai pemahaman soal perilaku pengguna, menguntungkan banyak pihak seperti nasabah, perusahaan bank, dan e-commerce.

Namun, manfaat yang tawarkan open banking bukan tanpa halangan. Senior Software Engineer and Consultant Multipolar Technology, Hansen Panjaitan menjelaskan salah satu tantangan terbesar dari sistem open banking, yaitu keamanan dan potensi kebocoran data.

“Suatu ekosistem yang terbuka, tentu memiliki titik kerentanan. Sekali kita membuka akses, di situ kita sudah meng-introduce satu titik kerentanan,” terang Hansen dalam acara Infobank Outlook 2024 bertajuk “Business Analytics and Artificial Intelligence Driving Change in Business Banking and Finance” di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta pada Rabu, 18 Oktober 2023.

Baca juga: Penerapan Open Banking 2025 Bersifat Mandatory?

Hansen mengakui bahwa dalam sistem yang sudah disusun sedemikian rupa agar terlihat bagus, rapi, dan terstruktur, sayangnya masih ada orang-orang jahat yang memanfaatkan sistem ini untuk keperluan pribadi.

“Titik kerentanan ini bisa dieksploitasi bisa dipakai untuk tujuan-tujuan yang merusak atau disalahgunakan demi kepentingan pribadi,” katanya.

Data yang diperoleh ini tidak jarang juga dijual ke dark web, berpotensi disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Hansen juga menyorot banyaknya kebocoran data yang terjadi di Indonesia dari 2022 sampai 2023.

Peristiwa ini terjadi di berbagai lembaga di sejumlah bidang berbeda, mulai dari kebocoran data di media sosial, SIM card, e-commerce, dan masih banyak lagi. Jumlah data yang bocor seringkali mencapai lebih dari 10 juta data pengguna.

Baca juga: Ancaman Kejahatan Siber Makin Nyata di Era Open Banking

“Kebocoran data yang terjadi di bisnis swasta atau di instansi pemerintahan ini seakan menjadi tanda bagi kita untuk menaruh perhatian yang cukup seksama dalam keamanan,” jelas Hansen.

Bahaya kebocoran data ini, menurut Hansen, menjadi salah satu alasan Bank Indonesia (BI) menerbitkan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP), yang memberikan standar dalam sistem pembayaran di Indonesia, meliputi hal-hal semacam protokol komunikasi, perlindungan konsumen, dan perlindungan data. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

9 hours ago

Banyak Orang Indonesia Gagal Menabung karena Pola Keuangan Salah, Ini Solusinya

Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More

9 hours ago

Berikut 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More

9 hours ago

IHSG Sepekan Melemah Hampir 6 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.678 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More

9 hours ago

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah BPR Koperindo

Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More

9 hours ago

YLKI Yakin Satgas Ramadan Pertamina Mampu Jaga Pasokan BBM dan LPG saat Mudik Lebaran 2026

Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More

10 hours ago