Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie
Poin Penting
Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menanggapi isu tarif impor Amerika Serikat (AS) sebesar 15 persen dengan menekankan pentingnya posisi AS sebagai mitra dagang utama Indonesia.
Menurutnya, AS merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia dengan nilai perdagangan mencapai sekitar 40 miliar dolar AS.
“Kalau kita bicara mengenai AS, perlu dicatat bahwa Amerika (Serikat) itu adalah mitra berdagang kita yang nomor dua terbesar. Jumlahnya sekitar 40 miliar dolar AS. Jadi sangat penting sekali, terutama untuk garmen, tekstil, alas kaki, sampai furnitur dan elektronik,” ujar Anindya, yang akrab disapa Anin.
Baca juga: Impor 105 Ribu Mobil Ditunda, Kadin: Langkah Tepat Lindungi Industri Dalam Negeri
Ia menjelaskan, terdapat lebih dari 1.000 jenis produk Indonesia yang memperoleh insentif tarif hingga 0 persen untuk ekspor ke AS. Produk tersebut antara lain kakao, kopi, hingga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).
“Tujuannya itu untuk memastikan bahwa produk-produk Indonesia bisa masuk ke Amerika (Serikat) dengan tarif sedang mungkin bahkan 0 persen,” jelasnya.
Terkait keputusan Mahkamah Agung di AS, Anin menilai hal tersebut telah diprediksi sebelumnya dan tidak membuat posisi Indonesia menjadi lebih buruk.
“Yang paling penting adalah kita melihat niat baik dari kedua negara sudah terbentuk. Dengan adanya keputusan itu, pihak Amerika (Serikat) tentu akan melakukan pekerjaan rumahnya untuk mengatur peraturan dalam negerinya. Tapi Indonesia saya rasa tidak akan lebih jelek daripada sebelumnya,” kata dia.
Anin pun optimistis hubungan perdagangan Indonesia-AS akan tetap mencatatkan hasil positif. Pasalnya, sejumlah komoditas yang diimpor dari AS, seperti kedelai, kapas, dan gandum, merupakan kebutuhan penting bagi industri dalam negeri.
Baca juga: Kolaborasi Kadin dan Perumnas Dukung Program Perumahan Nasional
“Yang penting dari kita adalah harganya terjangkau. Kalau harganya 0 persen, artinya buat konsumen kita tentunya lebih murah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai perubahan kebijakan tarif AS justru harus dimanfaatkan pelaku usaha nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menangkap peluang ekspor.
“Indonesia mesti siap-siap untuk memperluas kapasitas produksinya. Kalau sudah terbuka pasar baik di Amerika (Serikat), juga Eropa, Kanada, dan pada umumnya mereka bicara produk-produk yang sama, bagaimana kita meningkatkan kapasitas produksi sehingga bisa menghasilkan ekspor dan devisa yang lebih,” tegas Anin.
Menurut dia, dunia usaha tidak boleh hanya bersikap defensif, tetapi juga perlu berpikir ofensif dengan memperluas produksi, menciptakan lapangan kerja, serta menarik investasi baru.
“Bukan hanya defensif dari sisi bertahan, tapi kalau sudah dibuka jalan bagaimana bisa lebih ofensif dalam arti memperluas produksi. Tentunya itu berarti lapangan kerja dan investasi. Itu mesti dipikirkan baik-baik,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang hampir 100 persen, dengan warga… Read More
Poin Penting Pelaku menggunakan perangkat ilegal untuk meniru menara BTS, sehingga bisa mengirim SMS phishing… Read More
Jakarta - Momentum Lebaran 2026 dimanfaatkan Paramount Land untuk mengakselerasi penjualan properti melalui kombinasi strategi… Read More
Poin Penting Tugu Insurance menyalurkan 1.000 paket sembako dan santunan kepada anak yatim serta keluarga… Read More
Poin Penting OJK cabut izin PT Tennet Depository Indonesia sebagai pengelola penyimpanan aset keuangan digital… Read More
Poin Penting Pemerintah menerapkan WFH sehari dalam sepekan bagi ASN dan mengimbau sektor swasta untuk… Read More