Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir (kanan) dalam acara China Conference Southeast Asia 2026 di Hotel St Regis Jakarta, Selasa (10/2). (Foto: Steven Widjaja)
Poin Penting
Jakarta – Baru-baru ini, lembaga pemeringkat Moody’s merilis laporan terbaru terkait peringkat kredit Indonesia. Dalam laporan tersebut, Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, namun merevisi outlook dari stabil menjadi negatif.
Tak hanya itu, Moody’s juga mengubah outlook lima bank besar nasional dari stabil menjadi negatif, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Dalam catatannya, Moody’s menekankan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, serta kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah dinamika perubahan kebijakan dan tata kelola perekonomian. Selain itu, penguatan basis penerimaan negara dinilai krusial untuk mendukung belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Pandu Sjahrir: Danantara Setiap Hari Borong Saham, Fokus Emiten Fundamental Solid
Penurunan outlook tersebut direspons oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menilai pihak-pihak terkait, termasuk Danantara, perlu memberikan penjelasan kepada Moody’s terkait kepastian arah kebijakan fiskal Indonesia.
“Sekarang semuanya masuk di Danantara, dan Danantara memerankan fungsi juga untuk investasi. Ini yang perlu penjelasan,” ujar Airlangga di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal tersebut, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkomunikasi dan memberikan klarifikasi kepada Moody’s.
“Moody’s Rating itu kan nanti juga ada dari Kemenkeu (yang diajak bicara). Mungkin juga ada dari beberapa institusi yang akan diajak berbicara (dengan Moody’s). Ya tentu harus di-follow up dengan baik,” ujar Pandu saat ditemui usai menghadiri China Conference Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Baca juga: Masuk BEI, Danantara Dinilai Bisa Jadi Market Balancer
Ia menegaskan bahwa komunikasi kepada lembaga pemeringkat perlu dilakukan secara terkoordinasi dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pandu juga mengapresiasi masukan yang disampaikan Moody’s.
“Kan poin utama dari Moody’s itu adalah soal komunikasi dan arahan. Itu mereka perlu kepastiannya, itu our job lah. Dan saya rasa semua unsur dari yang berkomunikasi ke luar itu harus satu suara,” tukasnya. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Badan Gizi Nasional (BGN) menerapkan skema kerja hybrid (WFH-WFO) 50% untuk unit yang… Read More
Poin Penting Zulkarnain Sitompul menegaskan kredit macet tidak otomatis menjadi tindak pidana, melainkan bagian dari… Read More
Poin Penting Kadin mendorong dunia usaha meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi seiring pemberlakuan KUHP baru Perusahaan… Read More
Poin Penting PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi mengintegrasikan… Read More
Poin Penting PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menilai data backlog perumahan masih belum akurat… Read More
Poin Penting BTN meresmikan Ecopark Dago sebagai pusat pelatihan SDM berbasis konsep modern dan ramah… Read More