Ilustrasi: Kantor SMF. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Solo – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF menyatakan telah berkontribusi sebesar 25 persen terhadap total pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) secara nasional.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan, sejak periode 2018-2025, pihaknya telah menyalurkan dana sekitar Rp34 triliun untuk mendukung program tersebut.
“Kami telah menyalurkan dari 2018 sampai sekarang, kurang lebih Rp34 triliun,” ujar Ananta, di Solo, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menjelaskan, dana yang disalurkan tersebut mendukung pembiayaan terhadap 904.000 unit rumah di seluruh Indonesia. Dalam skema FLPP, sebanyak 75 persen pembiayaan berasal dari pemerintah melalui BP Tapera, sedangkan 25 persen disalurkan melalui SMF.
Baca juga: Wamenkeu Suahasil Minta PIP Salurkan Pembiayaan UMKM Berbunga Rendah
Teranyar pada 2025, SMF juga memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp6,68 triliun. Namun, untuk mengejar target penyaluran FLPP, SMF harus menerbitkan surat utang di pasar modal guna menambah kapasitas pendanaan.
Dari PMN tersebut, kata Ananta, SMF langsung menggabungkannya dengan dana internal yang dihimpun dari pasar modal sehingga total dana yang disalurkan mencapai Rp8,03 triliun.
Baca juga: Dukung Sektor Perumahan, SMF Bangun 84 Rumah dan Renovasi Kawasan Kumuh
“Pada waktu Rp6,68 triliun itu kami terima pada 31 Desember sekitar pukul 21.30. Malam itu juga langsung kami gabungkan dengan dana internal dari pasar modal menjadi Rp8,03 triliun dan langsung disalurkan ke bank-bank penyalur FLPP,” jelasnya.
Menurutnya, dana tersebut langsung disalurkan kepada sekitar 15 bank penyalur, dengan porsi terbesar diterima oleh Bank Tabungan Negara (BTN), BTN Syariah hingga Bank Papua.
“Jadi dana tersebut habis semua, nggak sempat kita tahan. Langsung kita distribusikan,” tegasnya.
Berdasarkan data SMF, sepanjang 2025 realisasi penyerapan FLPP mencapai sekitar 280.000 hingga 290.000 unit rumah, atau sekitar 80 persen dari target 350.000 unit.
Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah penyerapan FLPP, melampaui rekor sebelumnya yang berada di kisaran 220.000 unit per tahun.
“Dan itu adalah yang paling tertinggi dari seluruh penyerapan FLPP. Karena yang paling tinggi itu hanya 220 ribu. Dan pada tahun 2025 bisa sampai 290 ribu,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Menkeu Purbaya menyebut peluang pembayaran utang KCIC Whoosh menggunakan APBN masih 50:50 dan… Read More
Poin Penting Kejaksaan Agung mengungkap modus korupsi ekspor CPO dengan merekayasa klasifikasi komoditas untuk menghindari… Read More
Poin Penting PIP siap membiayai UMKM dalam ekosistem Kopdes Merah Putih, dengan syarat pembiayaan produktif… Read More
Poin Penting SMF menyatakan mendukung program gentengisasi Prabowo, namun masih menunggu penjelasan teknis dari Kementerian… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kabar Suahasil Nazara dan Misbakhun masuk bursa… Read More
Poin Penting Purbaya memproyeksi ekonomi Q1 2026 mencapai 5,6 persen, lebih tinggi dari realisasi Q1… Read More