Ilustrasi: Menara SMBC. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) atau SMBC mencatatkan laba bersih konsolidasi setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,5 triliun hingga September 2025
Angka tersebut mengalami koreksi sebanyak 26 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Meski begitu, SMBC Indonesia berhasil membukukan pendapatan operasional sebesar Rp13,8 triliun atau meningkat 11 persen yoy.
Sementara itu, penyaluran kredit mencapai senilai Rp186,2 triliun atau tumbuh 6 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp175,1 triliun.
Baca juga: SMBC Indonesia Siapkan Strategi Kurangi Rekening Dormant
Secara rinci, kredit di segmen retail juga menunjukkan pertumbuhan, seperti Joint Finance sebanyak 34 persen yoy, Jenius di luar Digital Mikro naik 8 persen yoy, dan Mikro tumbuh 7 persen yoy. Kolaborasi Perseroan dengan Grup OTO turut mendorong peningkatan penyaluran di segmen Joint Finance.
Di segmen lain, kredit korporasi dan komersial meningkat 10 persen yoy, sementara piutang pembiayaan Grup OTO naik 11 persen yoy.
Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 9 persen yoy, dengan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) yang lebih tinggi mendukung pertumbuhan ini, mencerminkan ketangguhan dan kinerja yang solid dari Perseroan di tengah persaingan pasar.
Baca juga: Kinerja SMBC Indonesia Tetap Tangguh di Semester I 2025, Raup Laba Rp1 Triliun
Direktur Utama SMBC, Henoch Munandar, mengatakan bahwa Perseroan menjaga kinerja yang solid sepanjang periode tersebut dengan merespons dinamika pasar serta pergeseran kebijakan moneter secara cepat dan efektif.
“Kami berupaya menciptakan dampak berkelanjutan dengan mendukung kemajuan ekonomi Indonesia, mendorong kesejahteraan nasabah, dan memberdayakan komunitas menuju pertumbuhan berkelanjutan. Seluruh upaya ini kami lakukan berlandaskan pola pikir adaptif serta komitmen terhadap pertumbuhan yang bermakna,” kataHenoch dalam keterangan resmi dikutip, Kamis, 30 Oktober 2025.
Adapun, untuk kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto sebesar 2,8 persen per September 2025, lebih tinggi dibanding 2,2 persen setahun sebelumnya, namun membaik dari 3,2 persen pada akhir Juni 2025.
Lalu, posisi likuiditas dan pendanaan tetap kuat, tercermin di rasio cakupan likuiditas atau liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 277,8 persen, rasio pendanaan stabil bersih atau net stable funding ratio (NSFR) sebesar 119,9 persen, serta rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 29,8 persen.
Baca juga: Kantongi Restu OJK, Bank SMBC Jadi Induk Konglomerasi SMBC di Indonesia
Kinerja pendanaan tetap kuat, dengan saldo Current Account Savings Account (CASA) naik 33 persen yoy menjadi Rp50,6 triliun dan mendorong rasio CASA dari 33,6 persen pada September 2024 menjadi 42 persen pada September 2025.
Sementara itu, deposito berjangka menurun 7 persen yoy menjadi Rp69,7 triliun, namun total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6 persen yoy menjadi Rp120,3 triliun, mencerminkan pengelolaan pendanaan yang seimbang dan tangguh. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Bank OCBC NISP rencanakan buyback saham Rp1 miliar untuk remunerasi variabel manajemen dan… Read More
Poin Penting BGN siap menindaklanjuti laporan masyarakat terkait polemik menu MBG Ramadan. Anggaran bahan baku MBG ditetapkan Rp8.000–Rp10.000 per… Read More
Poin Penting Penerimaan kepabeanan dan cukai Januari 2026 tercatat Rp22,6 triliun (6,7 persen pagu APBN),… Read More
Poin Penting Presiden KSPN Ristadi meminta Presiden Prabowo membatalkan rencana impor 105 ribu kendaraan untuk… Read More
Poin Penting Pemerintah gelontorkan insentif Ramadan–Lebaran Rp12,8 triliun untuk jaga daya beli dan dorong konsumsi.… Read More
Poin Penting Allo Bank membukukan laba bersih Rp574 miliar pada 2025, naik 23 persen yoy,… Read More