Internasional

Skandal Emas Digital China Meledak, Investor Gagal Tarik Dana dan Emas Fisik

Poin Penting

  • Platform emas digital JWR runtuh dan membekukan dana investor hingga puluhan triliun rupiah karena gagal memenuhi penarikan massal.
  • Penyelidikan awal mengungkap dugaan emas yang dijual hanya berupa data digital tanpa cadangan fisik memadai akibat celah regulasi.
  • Kasus ini menjadi alarm bagi investor, termasuk di Indonesia, untuk memastikan legalitas dan transparansi cadangan sebelum membeli emas digital.

Beijing - Skandal besar mengguncang pasar keuangan Tiongkok (China). Platform perdagangan emas digital milik JWR Group, yang dikenal dengan nama JieWoRui, runtuh dan memicu kepanikan puluhan ribu investor ritel. Dana nasabah dibekukan, sementara emas fisik yang dijanjikan ternyata tidak tersedia.

Kerugian yang tercatat sangat besar. Laporan South China Morning Post menyebut dana yang tak bisa dicairkan mencapai lebih dari 10 miliar RMB atau sekitar Rp24 triliun.

Sejumlah laporan lain bahkan memperkirakan total dana terdampak menembus 19 miliar dolar AS, menjadikan kasus JWR sebagai salah satu skandal perdagangan emas terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini: Galeri24 dan UBS Kian Meroket, Antam Anjlok

Kejatuhan JWR terjadi di tengah lonjakan harga emas global. Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas mencetak rekor baru, mendorong investor ritel di China berbondong-bondong membeli emas digital melalui platform daring.

Kemudahan transaksi, nominal pembelian fleksibel, serta janji likuiditas tinggi membuat emas digital menjadi primadona baru. Namun situasi berbalik cepat ketika harga emas terus naik dan investor serentak mencoba menarik dana atau meminta pengiriman emas fisik.

Tekanan likuiditas yang besar membuat JWR tak mampu memenuhi kewajibannya. Permintaan pencairan tak terbayar.

“Ketika harga emas melonjak lagi dalam beberapa minggu terakhir, gelombang pelanggan mencoba mencairkan pendapatan mereka, mendorong perusahaan ke dalam krisis likuiditas dan membuatnya tidak mampu memenuhi permintaan penarikan yang melonjak,” demikian laporan South China Morning Post, Kamis, 29 Januari 2026.

Akun dibekukan dan penarikan dihentikan. Investor tak bisa mengambil uang maupun emas fisik yang telah mereka beli. Lebih mengejutkan, perusahaan hanya menawarkan kompensasi sekitar 20 persen dari total dana nasabah.

Cadangan Emas Dipertanyakan

Investigasi awal mengungkap persoalan mendasar. Sebagian besar emas yang tercatat dalam sistem diduga hanya berbentuk data digital tanpa dukungan cadangan fisik yang memadai. Artinya, emas yang diyakini “tersimpan” oleh investor ternyata belum tentu benar-benar ada dalam bentuk batangan.

Laporan Discovery Alert menilai keruntuhan JWR membuka kelemahan serius dalam pengawasan keuangan China. Perdagangan logam mulia berada di wilayah regulasi yang kompleks, bersinggungan dengan aturan perbankan, komoditas, dan fintech sekaligus.

“Runtuhnya JWR Group telah memicu krisis perdagangan logam mulia terbesar di China, yang menyebabkan lebih dari 10.000 investor kehilangan USD1,4 miliar. Skandal ini mengungkap celah kritis dalam pengawasan keuangan yang memungkinkan platform tanpa izin untuk mengeksploitasi kelemahan regulasi,” tulis Discovery Alert dalam laporannya.

Baca juga: Investasi Emas Digital, Cuan atau Bikin Was-Was? Ini Penjelasannya

Platform seperti JWR beroperasi di area abu-abu regulasi. Mereka bukan bank, bukan pialang sekuritas, dan bukan pedagang komoditas berlisensi.

Model bisnisnya sebagai perantara digital membuat mereka tidak tunduk pada kewajiban kecukupan modal dan cadangan emas sebagaimana lembaga keuangan resmi.

Ketika terjadi penarikan massal, mismatch antara kewajiban dan cadangan langsung terungkap. Kepercayaan runtuh, kepanikan meluas, dan efek domino pun tak terhindarkan.

Dampaknya langsung terasa di pasar. Kepercayaan terhadap emas digital anjlok tajam, sementara permintaan emas batangan fisik melonjak. Investor memilih aset yang bisa disimpan secara nyata ketimbang sekadar klaim digital.

Baca juga: Gila! Tambang Emas Ilegal Putar Dana Rp992 Triliun, DPR: Jejaringnya Hidup dan Berkembang

Pemerintah China pun bergerak. Otoritas setempat mulai membersihkan platform emas digital berisiko dan memperketat pengawasan perdagangan emas daring.

Langkah tersebut menjadi peringatan bahwa inovasi keuangan tanpa pengawasan memadai dapat berubah menjadi ancaman sistemik.


Alarm Global dan Pelajaran bagi Indonesia

Skandal JWR juga menjadi alarm global, termasuk bagi Indonesia. Emas digital kerap dipasarkan sebagai instrumen modern, praktis, dan aman. Namun keamanan tersebut sepenuhnya bergantung pada transparansi cadangan, audit, dan tata kelola platform.

Pelajaran penting bagi investor, termasuk di Indonesia, adalah memastikan legalitas dan transparansi sebelum membeli emas digital.

Regulasi di Indonesia memang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti, namun risiko tetap ada jika tata kelola platform lemah atau cadangan fisik tidak diaudit secara terbuka.

Baca juga: HRTA Rilis Aplikasi HRTA Gold untuk Transaksi Emas dan Perhiasan, Ini Keunggulannya

Ada beberapa hal mendasar yang wajib diperiksa: apakah emas benar-benar tersedia dalam bentuk fisik; apakah dapat ditarik kapan saja; bagaimana mekanisme penyimpanan dan audit dilakukan; serta apakah risiko dijelaskan secara transparan kepada nasabah. Kemudahan aplikasi dan promosi agresif tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan.

Kasus JieWoRui menegaskan pelajaran klasik investasi: ketika kepercayaan hilang, sistem bisa runtuh dalam hitungan hari. Emas memang dikenal sebagai safe haven, tetapi dalam bentuk digital tanpa dukungan fisik yang jelas, ia bisa berubah menjadi sumber kerugian besar.

Di tengah ketidakpastian global dan tren digitalisasi keuangan, keseimbangan antara inovasi dan pengawasan menjadi kunci. Tanpa itu, skandal emas digital seperti di Shenzhen bisa terulang di mana saja. (*) Prima Gumilang

Halaman12

Page: 1 2

Yulian Saputra

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

1 hour ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

2 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

3 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

3 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

3 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

4 hours ago