Jakarta – Dalam sistem pembayaran digital antar negara yang saat ini sedang dikembangkan oleh Bank Indonesia (BI) seperti QRIS yang terhubung di lima negara ASEAN, tentunya memiliki risiko keamanan siber.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Y.B. Hariantono, mengatakan bahwa, jika terkait dengan digital, tentunya ancaman siber akan semakin tinggi.
“Ya, tapi menurut saya ketika orang berbicara tentang keamanan dunia maya, kecuali yang lainnya lebih tinggi, digital adalah sesuatu yang dapat dilacak,” ucap Hariantono dalam FEKDI 2023 di Jakarta, 9 Mei 2023.
Oleh karena itu, bagi industri yang mengadopsi sistem pembayaran digital tentunya juga harus menjalani beberapa langkah keamanan yang harus dipatuhi.
“Institusi itu sendiri seperti menerapkan good governance on security. Ya. Jadi kami memastikan bahwa sistem pembayaran aman bagi pengguna untuk menggunakannya sesekali,” imbuhnya.
Sehingga, peranan ASPI dalam hal menegakkan standar keamanan, juga harus didukung oleh literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital tersebut, dimana ASPI berperan dalam hal itu.
Adapun, menurutnya hal itu menjadi penting karena metode pembayaran QRIS saat ini juga digunakan oleh para pedagang yang memerlukan kesadaran dan sosialisasi lebih lanjut terkait dengan pembayaran digital. (*)
Editor: Rezkiana Nisaputra
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More