Ilustrasi: Pergerakan pasar saham. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyoroti adanya perubahan sentimen dari pesimisme menjadi optimisme di pasar saham. Salah satunya terlihat dari sentimen global, yakni ketidakpastian tarif di Amerika Serikat (AS) yang sudah mulai mereda.
Chief Investment Officer, Equity MAMI, Samuel Kesuma, CFA menyebut, dari sisi domestik sudah menunjukkan sentimen positif, dengan kebijakan pemerintah dan bank sentral kompak mengarah untuk fokus pada pertumbuhan ekonomi.
“Beberapa faktor yang menurut kami dapat menjadi faktor positif bagi ekonomi dan pasar saham, salah satunya stimulus ekonomi yang mencapai Rp46 triliun untuk periode September-Desember, termasuk bantuan langsung tunai Rp30 triliun yang dapat lebih langsung menjadi katalis bagi konsumsi,” ucap Samuel dalam risetnya dikutip, 15 November 2025.
Baca juga: KBank Resmi Kuasai 89,48 Persen Saham Bank Maspion, Perkuat Posisi Regional
Tidak hanya itu, kata Samuel, dari sisi akselerasi belanja pemerintah yang secara historis mengalami akselerasi di kuartal IV. Diketahui, per September belanja pemerintah baru mencapai Rp2.234 triliun atau 63 persen dari target, dengan asumsi belanja dapat mencapai 100 persen dari target.
“Maka masih ada potensi belanja pemerintah mencapai lebih dari Rp1.200 triliun di kuartal IV, yang jauh lebih besar dari kuartal-kuartal sebelumnya,” imbuhnya.
Masih menurut Samuel, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI Rate dan injeksi likuiditas dari pemerintah diharapkan juga dapat mempercepat penurunan suku bunga perbankan dan menarik minat dunia usaha untuk meningkatkan permintaan kredit.
Baca juga: Phintraco Sekuritas Jadi Anggota Bursa Pertama Berlisensi Liquidity Provider Saham
Pada periode September 2025, pertumbuhan uang M2 mengalami kenaikan mencapai 8 persen dari sebelumnya 7,6 persen. Kemudian, pertumbuhan kredit tumbuh 7,7 persen dari bulan sebelumnya 7,5 persen.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk periode sepekan 10-14 November 2025 mengalami pelemahan sekitar 0,29 persen dan ditutup pada posisi 8.370,43 dari 8.394,59 di pekan lalu. Sementara itu, dari sisi kapitalisasi pasar tetap sama dengan posisi pekan lalu, yakni Rp15.316 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More