Moneter dan Fiskal

Singapura Dituntut Bersiap Hadapi Gejolak Geopolitik dan Ekonomi Global

Jakarta – Singapura dituntut untuk bersiap menghadapi dampak dari gejolak ekonomi dan geopolitik dunia. Hal ini disampaikan langsung oleh Deputi Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 16 Februari 2023.

“Kita adalah negara kecil, kita harus menerima kondisi dunia sebagaimana adanya, dan bukan seperti apa yang kita inginkan,” ucap Lawrence yang juga menteri keuangan Singapura ini.

“Saya pikir strateginya saat ini adalah kembali ke dasar. Harus jelas dengan apa keinginan kita. Dan kejar keinginan kita dengan cara-cara yang kredibel dan tindakan yang berprinsip secara konsisten,” tambahnya.

“Ada beberapa risiko. Kekuatan dari ekonomi global, khususnya ekonomi AS, saya pikir kebanyakan ekonom meyakini bahwa ekonomi AS akan baik-baik saja di tahun ini. Bahkan bila mengalami kontraksi, akan relatif kecil, tapi siapa yang tahu? Kondisinya bisa saja lebih parah,” jelas Lawrence.

Perang di Ukraina, menurutnya, bisa berekskalasi dan menciptakan banyak dampak negatif terhadap ekonomi dan rantai pasokan global. Kondisi ini belum lagi diperparah dengan kehadiran virus Covid-19 yang belum diketahui secara pasti bagaimana perkembangannya ke depan.

“Kita berpikir jika pandemi telah berpindah ke tahap lain, tapi kita sebenarnya tidak benar-benar mengetahui apa yang akan muncul berikutnya lagi,” katanya.

Namun demikian, ia menjelaskan bahwa Singapura untungnya sudah memiliki reputasi yang sangat baik di mata global. Dimana reputasi ini yang kemudian bisa digunakan secara optimal untuk menjaga dan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi Singapura.

“Para investor percaya kita. Mereka memiliki keyakinan yang tinggi terhadap kita. Itulah mengapa meskipun berada di tengah goncangan global, kita tetap melihat aliran dana investasi yang sehat, beserta permodalan dan talentanya. Kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin,” tegas Lawrence.

Di saat yang sama, Singapura akan tetap menjaga pertemanan dengan negara-negara lainnya. Maka dari itu, tensi politik antara AS dan Tiongkok mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Singapura.

“Kita berharap kedua negara dapat melanjutkan kembali kolaborasi positif yang sudah terjalin sebelumnya, karena sangat penting bagi kedua negara untuk bisa bekerja bersama,” tuturnya.

Lawrence menyatakan, bila kompetisi kedua negara menciptakan perang dingin baru, maka dampaknya akan besar bagi dunia, mengingat ekonomi negara-negara di dunia saat ini sangat terintegrasi dengan perekonomian Tiongkok.

Dalam kondisi global yang ada saat ini, Singapura pun berharap bisa menjadi salah satu spot vital dari rantai pasokan global. Lawrence menjelaskan, di tengah memanasnya kondisi geopolitik global, akan banyak perusahaan yang melakukan reorganisasi, yang dapat menimbulkan relokasi pabrik dan kantor secara global.

“Perpindahan saat ini sedang berlangsung. Namun, bagaimanapun perpindahan ini terjadi, akan tetap ada rantai pasokan. Dan kita ingin menjadi spot vital dalam rantai pasokan tersebut.” Steven Widjaja

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

10 hours ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

10 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

10 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

10 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

14 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

17 hours ago