Ilustrasi: Pergerakan pasar saham. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksi potensi pasar saham pada 8 Oktober-1 November 2024. Mereka mengimbau para trader untuk mencermati tiga sentimen yang bakal pengaruhi pasar saham, di antaranya potensi patah trend Amerika Serikat (AS) stock market, global macro update, serta kebijakan energi dan pembangunan dalam negeri.
Equity Analyst IPOT David Kurniawan menjelaskan, terkait sentimen potensi patah trend AS stock market, terlihat dari pergerakan indeks S&P 500 ditutup datar pada Jumat pekan lalu. Dow Jones turun 259 poin, sementara Nasdaq 100 naik 0,5 persen karena penurunan saham perbankan menutupi kenaikan saham teknologi.
Baca juga: Pluang Rilis Opsi Saham AS: Inovasi Investasi untuk RI
“Sektor keuangan khususnya, terpengaruh oleh kekhawatiran seputar New York Community Bancorp yang sahamnya anjlok 8,2 persen menyusul arahan yang mengecewakan. Bank of America dan Wells Fargo masing-masing turun 1,7 persen dan 1,3 persen, sementara Morgan Stanley dan Goldman Sachs turun 2 persen,” ucap David dalam risetnya di Jakarta, 28 Oktober 2024.
Sementara itu, dari sisi sentimen global macro update, pekan depan akan menjadi minggu yang sangat sibuk di AS. Ini dikarenakan investor akan berfokus pada estimasi awal pertumbuhan PDB kuartal III, non-farm payrolls, tingkat pengangguran dan lowongan pekerjaan JOLTS, serta ISM Manufacturing PMI, kepercayaan konsumen CB, laporan inflasi PCE dan angka pengeluaran dan pendapatan pribadi.
Tidak hanya itu, pergerakan investor asing juga wajib diamati pekan ini. Diketahui selama sepekan terakhir, investor asing mencatatkan net sell Rp1,7 triliun di pasar reguler dengan penjualan terbesar di saham BBRI.
“Maka dari itu, pergerakan investor asing di minggu depan sangat perlu dicermati, mengingat kepemilikan asing di saham saham dengan market cap besar juga sangat berpengaruh,” imbuhnya.
Baca juga: BEI Sebut Saham Sritex (SRIL) Penuhi Kriteria Delisting
Adapun, untuk kebijakan energi dan pembangunan dalam negeri, Presiden ke-8 Indonesia, Prabowo Subianto menyoroti pentingnya swasembada pangan dan energi di tengah situasi global yang tidak menentu, terus menginstruksikan kementerian terkait untuk segera merumuskan program hilirisasi 26 komoditas dan melanjutkan pembangunan dan program makan bergizi.
Kebijakan Presiden Prabowo tersebut tentunya akan memberikan dampak yang positif bagi emiten yang berhubungan dengan energi dan pembangunan, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BRI salurkan KUR Rp178,08 triliun pada 2025 kepada 3,8 juta debitur, dengan 64,49… Read More
Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia DALAM laporan Global… Read More
Poin Penting HRTA meluncurkan aplikasi HRTA Gold sebagai platform jual beli emas dan perhiasan fisik… Read More
Poin Penting Kredit tumbuh 15,9 persen yoy menjadi Rp899,53 triliun, DPK naik 29,2 persen menjadi… Read More
Oleh Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute DEMUTUALISASI bursa efek kerap dipromosikan sebagai keniscayaan… Read More
Poin Penting Jahja Setiaatmadja tambah saham BBCA sebanyak 67.000 lembar secara tidak langsung dengan harga… Read More