Ilustrasi - Adira Finance. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Momentum Ramadan dan Lebaran kerap menjadi periode krusial bagi industri pembiayaan. Di satu sisi, penyaluran pembiayaan meningkat, di sisi lain kualitas pembiayaan berpotensi tertekan.
PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance) menyadari risiko tersebut dan menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) tetap terkendali pasca Lebaran.
Head of Regional SSD Jabodetabek 2 Adira Finance, Nanang Kurniawan, mengakui bahwa secara tren, kualitas pembiayaan setelah Lebaran hampir selalu mengalami koreksi dari tahun ke tahun.
“Trennya sih pasti ada koreksi. Dari tahun ke tahun memang ada penurunan kualitas. Tapi itu sudah kita antisipasi,” ujar Nanang saat ditemui usai acara Media Gathering di Jakarta, Selasa (10/2).
Baca juga: Adira Finance Siap Genjot Pembiayaan Multiguna di Momen Ramadan
Menurutnya, kenaikan NPF setelah Ramadan merupakan pola musiman yang sulit dihindari. Namun, Adira Finance berupaya meminimalkan lonjakan tersebut melalui penguatan proses sejak awal pembiayaan.
“Kalau ditanya setelah Ramadan naik atau turun, trennya pasti naik. Tapi kita coba untuk meminimalkan kenaikannya,” katanya.
Salah satu kunci strategi Adira Finance adalah pendekatan preventif di sisi hulu, mulai dari proses analisis hingga edukasi nasabah. Proses pembiayaan tetap dilakukan secara standar, namun dengan pendalaman risiko yang lebih ketat.
“Prosesnya tetap standar, tapi kita menganalisa lebih dalam. Baik dari proses internal maupun dari sisi risk management, supaya tetap sesuai compliance,” jelas Nanang.
Baca juga: Meski Daya Beli Melemah, Amartha Yakin Prospek Pembiayaan UMKM 2026 Tetap Moncer
Tak kalah penting, edukasi kepada nasabah menjadi bagian dari manajemen risiko. Nanang menekankan pentingnya kesadaran nasabah dalam mengelola kewajiban pembiayaan, terutama di tengah kemudahan akses data kependudukan yang kini semakin terintegrasi.
“Jangan sampai mengambil kendaraan atau pinjam dana tanpa memikirkan angsurannya. Apalagi sekarang NIK nasabah sudah terkoneksi ke mana-mana,” tegasnya.
Dengan strategi tersebut, Adira Finance optimistis kualitas pembiayaan tetap terjaga. Hingga akhir 2025, rasio NPF perusahaan tercatat di bawah 2 persen dan hingga saat ini posisinya masih berada di level yang aman. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Direksi PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) memborong 162.800 saham pada 26 Februari… Read More
Poin Penting INDEF menilai lonjakan harga pangan membuat masyarakat menengah bawah fokus ke kebutuhan pokok… Read More
Poin Penting Pakar Universitas Padjajaran Yayan Satyakti mengusulkan Indonesia segera impor minyak mentah dari AS… Read More
Poin Penting Inflasi Februari 2026 capai 4,76 persen yoy, didorong kenaikan IHK dari 105,48 menjadi… Read More
Poin Penting Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68 persen (mtm), dengan IHK… Read More
Poin Penting Nadiem Makarim mendirikan Gojek (2010) hingga merger dengan Tokopedia membentuk GoTo Group pada… Read More