Jakarta – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso siap menebar dividen jumbo untuk tahun buku 2023 kepada pemegang saham dari perolehan laba perusahaan senilai Rp60,4 triliun.
Hal ini lantaran rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BRI berada di level 27,47 persen per September 2023. Padahal, untuk menjaga keselamatan perseroan hanya perlu CAR 17,5 persen.
“Kita sekarang memilki CAR 27,47 persen. Padahal kalau untuk memenuhi kebutuhan bank hanya butuh 17,5 persen. Sehingga kita punya kelebihan sekitar 10 persen,” katanya Sunarso, dalam acara 15 Juta Ibu-ibu Mekaar di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur, Senin, 12 Februari 2024.
Baca juga: Bidik Kredit 2024 Tumbuh 12 Persen, BRI Fokus Garap Segmen Ini
Menurutnya, apabila setiap tahun bank pelat merah itu hanya ‘mengonsumsi’ CAR 2 persen saja, maka dalam 4-5 tahun ke depan BRI tidak membutuhkan tambahan modal karena modalnya sudah lebih dari cukup.
“Oleh karena itu artinya apa, berapa pun laba BRI tidak masalah ketika laba tersebut dibagi dalam bentuk dividen,” tambahnya.
Diketahui, BRI membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp60,4 triliun sepanjang 2023. Perolehan tersebut tumbuh 17,54 persen secara tahunan (yoy) dari perolehan tahun 2022 sebesar Rp51,40 triliun.
“Minimal, saya sih ingin 70-80 persen dari laba dibagi dalam bentuk dividen,” jelasnya.
Artinya, apabila mengacu pada perolehan laba tahun 2023 sebesar Rp 60,4 triliun, maka dividen yang ditebar bagi pemegang saham bisa mencapai Rp48 triliun.
“Ya kalikan saja wong laba BRI Rp60,4 triliun. Kalau dikali 80 persen jadi Rp48 triliun,” bebernya.
Baca juga: Adu Laba BRI, Mandiri, BCA dan BNI Sepanjang 2023, Siapa Juaranya?
Ia menegaskan, mayoritas laba perusahaan akan dikembalikan kepada pemegang saham dengan mayoritas dikuasai oleh pemerintah sebesar 53,19 persen.
“Katakan lah kita bayar dividen Rp48 triliun. Maka sebesar 53,19 persen akan balik kepada negara,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More
Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More
Poin Penting BI menegaskan tidak membatasi transaksi valuta asing, tetapi memperketat kewajiban dokumen underlying untuk… Read More
Poin Penting Bank Indonesia menyalurkan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Rp427,1 triliun ke perbankan hingga minggu… Read More
Poin Penting Bank Negara Indonesia (BNI) memberangkatkan lebih dari 7.000 pemudik dalam Program Mudik Gratis… Read More
Poin Penting Bank Raya memastikan layanan digital tetap optimal selama libur Hari Raya Nyepi 2026… Read More