Siap IPO, Nusantara Sawit Sejahtera Incar Investor Milenial

Siap IPO, Nusantara Sawit Sejahtera Incar Investor Milenial

Bank Ganesha Melantai di Bursa
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) membidik investor dari kalangan milenial untuk membeli saham perusahaan melalui IPO yang dijadwalkan digelar pada awal tahun 2022.

Wakil Direktur Utama  PT Nusantara Sawit Sejahtera, Kurniadi Patriawan mengatakan, industri kelapa sawit selama ini sudah terbukti menjadi salah satu komoditas penopang perekonomian nasional. Posisi ini harus dipertahankan dan terus dikembangkan.

“Kalangan milenial akan menjadi generasi penerus untuk mempertahankan dan mengembangkan prestasi industri kelapa sawit Indonesia di masa mendatang. Untuk itu, kalangan milenial perlu berperan dan terlibat dalam perusahaan-perusahaan kelapa sawit, termasuk menjadi pemegang saham,” ujarnya, di Jakarta, 22 November 2021.

Target ini sejalan dengan peningkatan jumlah investor milenial di bursa saham. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, jumlah investor di pasar modal Indonesia pada akhir 2020 telah mencapai 1.695.268 Single Investor Identification (SID).

Jumlah investor di pasar saham tahun 2020 meningkat sebesar 53,47 persen dibandingkan jumlah investor selama akhir tahun 2019 yang mencapai 1.104.610 SID. Jika dikelompokkan berdasarkan usia, sebanyak 70 persen di antaranya adalah generasi milenial atau kelahiran tahun 1985-1990.

Sementara itu, NSS berencana melepas 40 persen untuk meningkatkan kapitalisasi pasar perusahaan menjadi Rp5 triliun. Dengan perkiraan harga Rp135 hingga Rp150 per unit saham, perusahaan menargetkan dapat menarik Rp2 triliun dari penjualan saham perdana.

NSS didirikan pada tahun 2008 dengan lima lokasi perkebunan di Provinsi Kalimantan Tengah. Perusahaan fokus memproduksi Tandan Buah Segar (TBS), Minyak Sawit Mentah (CPO) dan Inti Sawit (PK) dengan standar kualitas tinggi.

Kurniadi menjelaskan, dengan menjadi perusahaan publik, Nusantara Sawit Sejahtera membuka diri terhadap pengawasan dari masyarakat terutama dari pemegang saham. Baik dari kinerja keuangan, tata kelola sistem perusahaan, memenuhi ketentuan konservasi lingkungan dan mensejahterakan masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan.

Di sisi lain, dia mengemukakan sejak beberapa tahun terakhir kampanye hitam terhadap produk minyak kelapa sawit gencar dilakukan sejumlah pihak. Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan dalam perdagangan CPO di pasar internasional, terutama di Eropa.

Kampanye hitam saat ini juga sedang menyasar kalangan milenial. Untuk menghadapi hal tersebut, Kurniadi berharap generasi muda bisa lebih kritis. Artinya tidak langsung menerima informasi negatif tentang kelapa sawit Indonesia. Sebab, informasi negatif ini memberikan dampak yang sangat besar bagi perekonomian masyarakat, terutama bagi tenaga kerja dan orang-orang yang selama ini mengandalkan hidupnya dari industri kelapa sawit.

“Kalau generasi milenial Indonesia memiliki perhatian besar dan mau berbuat sesuatu, maka saya yakin Indonesia sebagai penghasil minyak nabati terbesar di dunia, tidak bisa digeser posisinya,” papar Kurniadi.

Dia mengatakan memang tidak mudah untuk bisa menguasai dan mempertahankan posisi Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Tantangan terbesarnya adalah menumbuhkan kesadaran dalam diri sendiri bahwa kelapa sawit adalah aset nasional yang harus dijaga bersama.

Setelah ada kesadaran bersama, maka akan lebih mudah melakukan gerakan nasional untuk menginformasikan peran industri kelapa sawit terhadap masyarakat dan perekonomian nasional seperti yang dilakukan Pemerintah Malaysia, mulai dari kegiatan hulu hingga hilir sawit. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Pilihan

escort bayan cialis

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini