Gedung Perkantoran BCA. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta — Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyetujui pembagian dividen yang jumlahnya meningkat, sekaligus rencana pembelian kembali (buyback) saham. Dua keputusan tersebut diharapkan menjadi katalis penting yang dapat menopang kinerja saham BBCA.
Selain itu, dalam RUPST yang diselenggarakan pada Kamis, 12 Maret 2026, BBCA juga menyampaikan rencana pembagian dividen interim sebanyak 3x pada tahun 2026. Rencana tersebut sejalan dengan komitmen bank swasta terbesar nasional itu untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
“Pembagian dividen interim setiap kuartal ini diharapkan dapat menambah cashflow bagi pemegang saham yang selama ini senantiasa bersama kami. Perseroan memastikan rencana ini juga menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris,” ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BBCA dalam keterangan resmi, Jumat (13/3).
Pembagian dividen diputuskan sebesar 72 persen dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp57,5 triliun. Dengan rasio tersebut, total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp41,3 triliun atau setara Rp336 per saham.
Baca juga: BCA Lakukan Buyback Saham Rp5 Triliun, Ini Tujuannya
Rasio pembagian dividen ini juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, BBCA membagikan dividen dengan payout ratio sekitar 67,4 persen, sehingga keputusan terbaru ini menunjukkan komitmen perseroan untuk memberikan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.
Sebelumnya, BBCA telah membagikan dividen interim pada Desember 2025 sebesar Rp6,8 triliun atau setara Rp55 per saham. Dengan demikian, sisa dividen tunai final yang akan dibagikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp281 per saham.
Besaran dividen tersebut menjadi semakin menarik di tengah kondisi harga saham BBCA yang sempat mengalami tekanan pasar. Dengan harga saham saat ini, yield dividen BBCA diperkirakan berada di kisaran 4–5%, lebih tinggi dibandingkan yield historis yang biasanya berada di kisaran 2–3 persen.
Selain pembagian dividen, RUPST juga memberikan persetujuan bagi perseroan untuk melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Langkah ini dinilai sebagai strategi manajemen untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Kombinasi antara dividen yang tinggi dan program buyback mencerminkan upaya BBCA untuk menambah nilai pemegang saham di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi. Strategi ini juga menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis perseroan ke depan.
Di sisi operasional, manajemen BBCA juga telah menetapkan sejumlah target kinerja untuk tahun 2026. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8–10 persen seiring dengan prospek pemulihan ekonomi dan permintaan pembiayaan yang tetap solid.
Sementara itu, marjin bunga bersih/net interest margin (NIM) diproyeksikan berada di kisaran 5,4–5,6 persen. BBCA juga menargetkan cost of credit yang tetap terjaga di level rendah sekitar 0,4–0,5 persen, mencerminkan kualitas aset yang tetap sehat.
Dari sisi efisiensi, bank swasta terbesar di Indonesia ini menargetkan beban terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) berada di kisaran 31–33 persen. Target tersebut menunjukkan fokus Perseroan untuk menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan profitabilitas yang kuat.
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menilai pedoman kinerja yang disampaikan manajemen BBCA untuk 2026 tergolong realistis dan dapat dicapai. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tetap mempertahankan pandangan positif terhadap saham BBCA.
“Kami kembali menegaskan keyakinan kami terhadap saham BBCA, mengingat kemampuannya untuk terus mencetak kinerja yang tangguh dengan fundamental laba yang tetap kuat,“ kata Akhmad dalam laporan risetnya.
Baca juga: RUPST BCA Angkat David Formula jadi Direktur, Ini Profil dan Perjalanan Kariernya
Akhmad juga menjelaskan bahwa keunggulan BBCA dalam bisnis transactional banking yang sulit ditandingi, biaya dana yang rendah, serta daya tarik dividen yang solid akan tetap menjadi cerita utama pada 2026.
“Meskipun kepercayaan pasar masih relatif lemah dalam periode yang cukup panjang, kami tetap memperkirakan potensi re-rating saham masih terbuka. Hal ini didukung oleh tren penurunan biaya dana, imbal hasil kredit yang relatif stabil, efisiensi operasional yang terjaga, pendapatan non-bunga yang solid, serta pencadangan yang tetap terkelola dengan baik sehingga mampu menopang kinerja laba pada 2026,” jelas Akhmad.
Dalam risetnya Akhmad memberikan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp11.080 per saham untuk 12 bulan ke depan atau setara dengan rasio price to book value (PBV) 4,1x 2026 yang mencerminkan potensi kenaikan 60,6 persen dari harga penutupan terakhir Kamis (12/3) di Rp6.900 per saham. (DW)
Cermati Fintech Group menggelar program mudik gratis #MAUDIKBersama sebagai bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial… Read More
Dari 1.050 karya yang dikirimkan pada Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2026 terpilih 6 pemenang… Read More
Poin Penting BNI dorong nasabah kelola pengeluaran Ramadan lewat fitur Insight di aplikasi wondr by… Read More
Poin Penting SIG dan Taiheiyo Cement bekerja sama mengembangkan bisnis soil stabilization di Indonesia. Teknologi… Read More
Poin Penting Bank Saqu meluncurkan kampanye edukasi “Awas Hantu Cyber” untuk meningkatkan kewaspadaan nasabah dari… Read More
Poin Penting Anindya Novyan Bakrie mengajak semua pihak mendoakan perdamaian konflik Timur Tengah agar penderitaan… Read More