News Update

Seperti India, Sistem Resi Gudang Bisa Dorong Pertanian Indonesia

INDIA berusaha terus menjaga sustainability pertumbuhan ekonominya. Dengan jumlah penduduk 1,28 miliar jiwa dan luas wilayah 3,2 juta kilometer persegi, sektor agrikultur menjadi motor penting pembangunan ekonominya terutama dari sisi penyediaan lapangan pekerjaan dan ketahanan pangan. Sektor pertanian mampu menyumbang 16% terhadap PDB India.

Sektor pertanian di India tidak hanya digerakkan oleh para petani tapi berkembang menjadi sebuah industri yang menciptakan value chain dan ikut memberdayakan para petani. Salah satunya pergudangan di India yang berkembang dan menjadi sebuah industri dengan jumlah hampir 1.500 gudang. Salah satu perusahaan pengelola gudang di India adalah Star Agri, yang menyediakan one stop solution dan memiliki 800 buah gudang dengan infrastruktur modern serta kapasitas gudang lebih dari 1,6 juta ton.

StarAgri menyediakan  jasa pergudangan, collateral management, procurement, tes kualitas, pemrosesan untuk meningkatkan nilai tambah, hingga penjualan dan keuangan.  “StarAgri berusaha menjadi penyedia solusi di bidang agrobisnis dan menciptakan nilai kepada stakeholders seperti petani, bank dan pembeli,” ujar Vishal Pathak, Regional Head StarAgri, kepada Infobanknews.com di New Delhi (28/9).

Contoh lainnya adalah Central Warehousing Corporation (CWC) yang mengoperasikan 448 gudang dengan kapasitas 11,2 juta ton adalah penyedia jasa pergudangan yang dimiliki oleh pemerintah untuk menyediakan dukungan logistik kepada sektor pertanian.

Di Indonesia, sektor pertanian berjalan di tempat, bahkan sektor pertanian pangan ditinggalkan banyak petani karena tidak bisa menjanjikan kehidupan yang baik. Kepemilikan lahan pertanian kurang dari 0,4 ha per keluarga petani tidak memenuhi economic of scale untuk dikembangkan. Jumlah gudang hanya 120 buah dan para petani tergantung kepada tengkulak untuk memenuhi kebutuhan dananya secara cepat.

Sistem Resi Gudang (SRG) sudah 15 tahun dikembangkan sejak lahirnya UU Nomor 9 Tahun 2006 dan disempurnakan menjadi UU Nomor 9 Tahun 2011 yang di dalamnya sudah menyebutkan adanya sistem penjaminan SRG. Namun fungsi gudang dan peranan SRG Indonesia termasuk belum optimal karena belum adanya penjaminan SRG.

Untuk itu pemerintah kini mendorong keterlibatan sistem penjaminan SRG agar perbankan bersedia memberikan kreditnya kepada para petani dengan jaminan komoditas yang disimpan di gudang dan risikonya diserap oleh perusahaan penjaminan. Karena lembaga penjaminan SRG belum ada, maka pemerintah melalui PP Nomor 1 Tahun 2016 menunjuk Perum Jamkrindo sebagai Lembaga Pelaksana Penjaminan Sistem Resi Gudang.

Diding S. Anwar, Direktur Utama Perum Jamkrindo, mengatakan Jamkrindo yang selama ini ditugaskan untuk membantu UMKM, sekarang siap untuk membantu para petani melalui penjaminan SRG. “Salah satu tugas Jamkrindo sebagai perusahaan BUMN adalah memberikan penjaminan untuk mendorong UMKM. Dan sekarang kami siap menjalankan tugas menjamin SRG untuk  membantu para petani,” ujar Diding kepada Infobanknews.com di New Delhi, India (29/9).

Menurutnya, India bisa menjadi contoh baik karena berhasil membangun sistem pertaniannya yang dikelola secara sinergis antara para petani, pengelola gudang, lembaga perbankan, lembaga penjaminan,  maupun pihak otoritas seperti Warehousing Development and Regulatory Authority (WDRA) serta self regulatory authority seperti National Commodity & Derivatives Exchange (NCDEX).

“Pertanian di India sudah sangat well organized. Sistemnya sudah dibangun sedemikian rupa dan melibatkan banyak pihak sehingga menciptakan value added yang menguntungkan petani. Hasilnya produktivitas pertanian sangat baik dari segi quantity maupun quality, memperkuat ketahanan pangan, bahkan mendukung kinerja ekspor pemerintah,” imbuh Diding usai mengunjungi WDRA dan NCDEX.

Bachrul Chairi, Kepala Bappebti, menambahkan para petani di negara berkembang seperti India dan Indonesia biasa mengalami risiko dispoaritas harga pascapanen sehingga harus diatur dengan sistem yang naik. “Jadi peranan SRG itu sangat penting. Kita bisa ambil contoh di negara-negara yang pertaniannya maju itu membutuhkan dukungan pemerintah untuk menciptakan sistem pertanian yang baik,” ujar Bachrul Chairi kepada Infobanknews.com (29/9). (*) Karnoto Mohamad

Paulus Yoga

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

15 hours ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

16 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

16 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

16 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

19 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

22 hours ago