Ilustrasi: Gedung Tugu Insurance/isitmewa
Jakarta – Sampai dengan semester I 2024, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau yang dikenal dengan nama Tugu Insurance telah mengantongi laba bersih konsolidasian non-audit sebesar Rp439 miliar.
Perusahaan asuransi umum yang merupakan anak usaha Pertamina dengan kode TUGU ini telah mengunggah laporan keuangannya pada 26 Juli 2024 lalu. Mengacu laporan keuangan konsolidasian Juni 2024 (non-audit), TUGU mencatatkan premi bruto senilai Rp5,2 triliun naik 39,0 persen year on year (yoy).
Sementara itu, premi neto yang sudah dikurangi dengan premi reasuransi dan kenaikan atau penurunan cadangan tumbuh 33,7 persen yoy menjadi Rp2,0 triliun dan masih sejalan dengan kenaikan premi bruto.
Adapun segmen yang memberikan kontribusi terbesar premi bruto TUGU adalah kebakaran yang tumbuh 61,2 persen yoy, rangka kapal naik 13,7 persen yoy, onshore tumbuh 66,8 persen yoy, aviasi atau penerbangan melonjak 176,3 persen yoy dan segmen lainnya yang juga melesat 28,8 persen yoy.
Selanjutnya pendapatan investasi TUGU tumbuh 18,2 persen yoy menjadi Rp250 miliar pada Juni 2024. Pendapatan dari usaha lainnya juga naik dobel digit dengan laju 10,7 persen yoy menjadi Rp264 miliar. Hal ini membuat pendapatan TUGU mencapai Rp2,2 triliun di semester I-2024 naik 25,9 persen yoy.
Baca juga: Lanjutkan Tren Penguatan, Harga Saham TUGU Naik 2,17 Persen ke Level Rp1.175
Dari sisi, beban klaim neto TUGU mencatat sebesar Rp1,1 triliun pada semester I-2024 atau meningkat 16,7 persen yoy, dengan beban dari segmen asuransi ini naik lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan preminya. Total beban usaha dan beban usaha lainnya juga naik 18,2 persen yoy menjadi Rp597 miliar di saat yang sama.
Dengan demikian, laba operasi TUGU mencapai Rp517 miliar pada Semester I-2024. Laba operasi TUGU tumbuh 68 persen yoy dibanding semester I 2023 yang mencapai Rp308 miliar. Kemudian laba bersih TUGU yang diatribusikan untuk entitas induk mencapai Rp439 miliar.
Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih yang diatribusikan untuk induk tersebut turun 57,6 persen. Namun hal ini dikarenakan TUGU tidak lagi mencatatkan pendapatan yang bersifat one off atas kemenangan dengan kasus hukum Citibank Hong Kong seperti di tahun 2023.
“Memang terlihat ada penurunan, tetapi secara operasional masih solid terbukti pertumbuhan premi bruto 39 persen year-on-year (yoy) dan laba operasional naik 68 persen yoy,” ucap Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Sarkia saat dihubungi, Minggu, 28 Juli 2024.
Sarkia juga menjelaskan momentum kenaikan premi TUGU tersebut sejalan dengan kondisi industri dan peningkatan aktivitas pada sektor-sektor pendorong kenaikan premi tersebut.
Senada dengan Sarkia, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Nurwachidah, juga menjelaskan bahwa penurunan laba bersih tersebut bukan karena kinerja TUGU yang memburuk. Justru performa operasional perseroan menunjukkan perbaikan signifikan. Menurut Nur, penurunan tersebut wajar dan sudah diantisipasi pelaku pasar.
Baca juga: Kinerja Makin Kinclong, Saham TUGU Melesat hingga Masuk Top Gainers
“Lagi pula, baru semester I 2024 sudah mencapai Rp439 miliar merupakan hasil yang positif. Secara historis jika tahun lalu one off gain juga dikeluarkan dari perhitungan core business, laba TUGU masih naik signifikan, ini menunjukkan adanya perbaikan fundamental yang konsisten,” ujar Nur.
Asal tahu saja, karena sengketa hukum yang sudah bertahun-tahun tak terselesaikan berhasil dimenangkan oleh TUGU sehingga perseroan mendapatkan Rp1 triliun atas gugatannya yang membuat laba bersihnya naik.
Adapun pada akhir Juni 2024, TUGU secara konsolidasi mencatatkan aset Rp28,8 triliun dan posisi aset investasinya mencapai Rp11,7 triliun. (*)
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More