Sementara dari sisi Fee Based Income sampai dengan Semester I-2017 tercatat sebesar Rp469 miliar. Menurut Choirul, angka tersebut mengalami pertumbuhan hingga 10,95 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama yakni sebesar Rp423 miliar.
Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, kata dia, perseroan juga fokus pada penyelesaian kualitas aktiva yang ditempuh dengan melakukan restrukturisasi, recovery serta secara disiplin menerapkan monitoring nasabah watchlist dan pengelolaan kolektibilitas.
Baca juga: Pembiayaan Kepemilikan Mobil BSM Ditarget Rp500 Miliar
“Dengan fokus tersebut, pada triwulan II-2017 optimalisasi recovery berhasil mencapai Rp251 miliar atau tumbuh 21,91 persen dibandingkan Rp206,31 periode yang sama tahun sebelumnya,” ucapnya.
Melihat kinerja perseroan yang positif tersebut, BSM menjaga rasio kecukupan modalnya (Capital Adequacy Ratio/CAR) di level 14,37 persen atau meningkat dibanding posisi Juni 2016 yang sebesar 13,69 persen. Dari sisi efisiensi atau cost efficiency ratio (CER) juga membaik di level 52,10 persen. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More
Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More
Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More
Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More
Poin Penting Aset industri pembiayaan 2025 terkontraksi 0,01 persen, dengan pertumbuhan piutang hanya 0,61 persen,… Read More