Internasional

Sekutu AS Was-was Trump Kembali jadi Presiden

Jakarta – Kembalinya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) membuka kekhawatirkan negara-negara sekutu AS di Asia. Khususnya, soal kebijakan luar negeri ‘Amerika First’ yang dinilai bisa berdampak buruk bagi negara mereka.

Diketahui, semasa menjadi Presiden AS pada periode sebelumnya, kebijakan America First milik Trump memadukan diplomasi dan ancaman saat ia menggencarkan kebijakan luar negeri yang tidak dapat diprediksi.

Dengan kembalinya Trump ke kursi kepresidenan, para sekutu dan mitra AS di Asia mencoba mencari tahu apa arti “America First” babak kedua nanti bagi mereka.

Baca juga: Dampak Kemenangan Trump di Pilpres AS bagi Indonesia: Untung dan Ruginya

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengaku optimis, bahwa ia dan Trump akan menciptakan postur keamanan yang sempurna.

“Kami berbicara tentang solidaritas dan kemitraan yang kuat di kawasan Asia Pasifik dan dunia, berdasarkan aliansi Korea Selatan-AS,” ujar Yoon Suk Yeol, dinukil VOA Indonesia, Jumat, 8 November 2024. 

Namun demikian, banyak pihak di Seoul yang khawatir Trump bakal membuat kesepakatan dengan Korea Utara tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan Korea Selatan.

Di lain sisi, Trump juga terus mendorong Korea Selatan agar mengeluarkan dana lebih banyak untuk menempatkan pasukan AS di sana. Hal ini membuat sejumlah pihak di Seoul mempertanyakan seberapa besar komitmen Washington terhadap pertahanan negara itu.

Selain Korea Selatan, Jepang juga memiliki kekhawatiran yang serupa meski Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyebut pembicaraan pertamanya dengan Trump sangat bersahabat.

Bulan lalu, partai yang tengah berkuasa itu kalah besar dalam pemilu Jepang. Jika Ishiba bertahan sebagai perdana menteri, sejumlah pihak khawatir Ishiba yang posisinya lemah akan kesulitan menolak tuntutan Trump.

“Untuk bisa sukses menghadapi Trump, Anda harus kuat. Anda harus memiliki modal politik yang kuat, dan itulah hal yang tidak dapat ditunjukkan dan dimiliki pemimpin Jepang, Ishiba, atau siapa pun itu,” ujar Analis Politik Fujitsu Future Studies Center yang berbasis di Tokyo Tomohiko Taniguchi.

Sementara itu, pemerintah Taiwan bersikeras bahwa hubungannya dengan AS tetap ‘kokoh’. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa China mungkin akan mencoba menguji presiden baru AS itu nanti melalui intimidasi militer yang masih berlanjut di Taiwan.

Baca juga: Trump Menang, The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps

Trump mengirimkan pesan yang tidak jelas kepada Taiwan dan mengeluhkan bahwa Taiwan mencuri pekerjaan manufaktur AS dan harus membayar jika menginginkan perlindungan AS.

Ada juga kekhawatiran yang meluas seperti soal potensi kenaikan tarif di bawah pemerintahan Trump, dan bagaimana dampak meluasnya perang dagang AS-China terhadap wilayah tersebut.

Di Asia, banyak pihak yang mengharapkan adanya perubahan dari diplomasi berbasis nilai yang diterapkan Presiden AS Joe Biden menuju sesuatu yang lebih transaksional di bawah kepemimpinan Trump. Namun, bentuknya masih belum pasti. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Perjanjian Dagang RI-AS: Era Kecemasan Sistem Pembayaran dari “Ayat-ayat Setan”

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group DUNIA tak lagi volatile, tapi sudah… Read More

2 hours ago

Prudential Indonesia Luncurkan PRUMapan, Sasar Kebutuhan Proteksi Generasi Sandwich

Poin Penting Prudential Indonesia meluncurkan PRUMapan, asuransi jiwa tradisional yang menyasar milenial dan Gen Z,… Read More

7 hours ago

Dana Abadi LPDP Tembus Rp180,8 Triliun, Intip Rincian Alokasi dan Penggunaannya

Poin Penting Dana abadi LPDP mencapai Rp180,8 triliun, dengan alokasi terbesar untuk pendidikan Rp149,8 triliun,… Read More

8 hours ago

MTF Telusuri Dugaan Tindak Pidana yang Mengatasnamakan Perusahaan

Poin Penting PT Mandiri Tunas Finance (MTF) melakukan penelusuran menyeluruh atas dugaan tindak pidana yang… Read More

8 hours ago

ISEI Dorong Reformulasi Kebijakan UMKM Lewat Industry Matching di Bogor

Poin Penting ISEI dorong kebijakan berbasis praktik lapangan melalui ISEI Industry Matching bersama YDBA untuk… Read More

9 hours ago

Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Ramadan-Lebaran 2026

Poin Penting Bank Mandiri menyiapkan Rp44 triliun uang tunai untuk ATM/CRM selama 24 Februari-25 Maret… Read More

10 hours ago