Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, berbicara infrastruktur TI, mayoritas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sudah melakukan komputerisasi.
“Sebanyak 94% sudah menggunakan komputerisasi. Namun secara keseluruhan baru sebanyak 75% yang telah menggunakan komputerisasi secara terintegrasi,” kata Analis Eksekutif Senior pada Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV OJK, Roberto Akyuwen dalam acara seminar dan Penganugerahan TOP 100 BPR The Finance di Jakarta, Jumat, 29 Juni 2018.
Menurutnya, managemen risiko teknologi informasi menjadi hal yang sangat penting, mengingat hampir seluruh BPR telah menggunakan sistem komputerisasi.
Namun lanjutnya BPR saat ini perlu perlu jembatan untuk mengatasi kelemahan dalam sistem TI, melalui kerjasama pengembangan sistem TI.
Hal itu bisa dilakukan dengan vendor IT, Fintech dan Apex/mitra strategis/lembaga penunjang atau dengan lembaga jasa keuangan lainnya.
“Karena rendahnya daya saing BPR antara lain disebabkan oleh produk yang kurang menarik, keterbatasan fitur pelayanan dan tingginya persaingan dengan lembaga keuangan lainnya,” jelasnya. (*)
Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More
Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More
Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More
Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More