Jajaran Direksi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dalam konferensi pers paparan kinerja full year 2025 di Jakarta. (Foto: Ari Astriawan)
Poin Penting
Jakarta – PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menyalurkan pembiayaan sebesar Rp20,88 triliun sepanjang 2025. Realisasi pembiayaan ini mengalami kenaikan 22,75 persen year on year (yoy) dibandingkan Rp17,01 triliun.
Dana itu disalurkan ke sejumlah lembaga penyalur pembiayaan perumahan.
Adapun dari sisi pendanaan, total dana yang dihimpun perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp10,6 triliun. Dalam menghimpun dana, perseroan mendapat kepercayaan dari lembaga pemeringkat internasional maupun domestik. SMF memperoleh peringkat BBB dari S&P Global, id(AAA) dari Pefindo, serta AAA(idn) dari Fitch Ratings.
“Peringkat tersebut mencerminkan kemauan dan kemampuan SMF dalam memenuhi kewajiban finansial secara tepat waktu, sekaligus menunjukkan dukungan kuat pemerintah terhadap peran SMF sebagai alat fiskal dalam sektor pembiayaan perumahan,” papar Ananta Wiyogo, Direktur Utama SMF dalam press conference paparan kinerja SMF 2025 di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Baca juga: SMF Sebut Pendanaan Rumah Subsidi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Sebagai fiscal tools pemerintah, SMF mendukung Program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Dalam skema tersebut, SMF menyediakan porsi pendanaan sebesar 25 persen terhadap penyaluran KPR FLPP.
Porsi pendanaan itu dipenuhi dari penyertaan modal negara (PMN) yang kemudian dioptimalkan lewat skema blended financing, di mana perseroan menerbitkan surat utang. Ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan dan optimalisasi pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Secara akumlasi, hingga Desember 2025, SMF telah menyalurkan Rp34,37 triliun untuk KPR FLPP. Jumlah itu atau setara 904.568 unit rumah. Penyaluran itu dari hasil optimalisasi PMN dengan skema leveraging sebesar 1,9 kali melalui penerbitan surat utang senilai Rp17,94 triliun.
Baca juga: SMF Dukung Program Gentengisasi Prabowo, Tunggu Koordinasi Teknis PKP
Direktur Utama SMF, Ananta, menyampaikan bahwa peran SMF sebagai special mission vehicle Kementerian Keuangan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan perumahan nasional.
“Sebagai alat fiskal Pemerintah, SMF memastikan setiap PMN yang diterima dapat dimanfaatkan secara optimal melalui skema leverage yang prudent dan terukur,” tegas Ananta.
Di luar itu, sepanjang 2025 SMF melakukan sejumlah langkah strategis. Dari sisi pendanaan, SMF memperoleh peringkat internasional ‘BBB’ dan menjadi korporasi pertama yang surat utangnya eligible pada transaksi REPO Bank Indonesia.
SMF juga menghadirkan produk-produk pembiayaan baru untuk membantu mengurangi backlog kepemilikan rumah maupun meningkatkan kelayakan hunian, antara lain melalui program Griya Nusantara dan Griya Tunas (pembiayaan mikro).
Perseroan memperkuat akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terfasilitasi pembiayaan formal, khususnya masyarakat berpenghasilan tidak tetap dan pekerja sektor informal.
Sepanjang 2025, SMF menyalurkan kredit mikro perumahan (Griya Tunas) sebanyak 52.142 rumah. Realisasi ini melampaui target Pemerintah sebesar 50.000 rumah yang memperoleh akses pembiayaan renovasi hunian.
“Dengan skema ini, masyarakat dapat melakukan renovasi atau perbaikan hunian agar menjadi lebih layak huni, sekaligus mendukung kegiatan produktif sebagai tempat usaha. Ini sekaligus membuka akses ke pembiayaan yang aman dan terjangkau, serta menjadi solusi konkret dalam mengatasi backlog kelayakan hunian di Indonesia,” tambah Heliantopo, Direktur Bisnis SMF.
Baca juga: Dukung Sektor Perumahan, SMF Bangun 84 Rumah dan Renovasi Kawasan Kumuh
Dari sisi kinerja keuangan, bisnis yang tumbuh positif sepanjang 2025 turut mendongkrak raihan laba SMF menjadi Rp565 miliar, atau tumbuh 5 persen ketimbang tahun sebelumnya. Total asetnya pun mengembang 15 persen, atau menjadi Rp66,81 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF, Bonai Subiakto, menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis SMF yang berbasis tata kelola dan manajemen risiko yang kuat. Hal itu terefleksi dari hasil audit laporan keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) yang mendapatkan opini ‘wajar, dalam semua hal yang material’.
“Capaian ini menunjukkan komitmen Perseroan dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, serta pengelolaan risiko yang prudent di tengah dinamika ekonomi,” kata Bonai. (*) Ari Astriawan
Poin Penting Pelantikan pejabat baru OJK disambut positif oleh regulator dan pelaku industri keuangan. BI… Read More
Poin Penting OJK mendukung penempatan dana pemerintah Rp100 triliun karena membantu likuiditas perbankan dan menekan… Read More
Poin Penting Konsumsi Pertamax meningkat 11,8% pada H-1 Lebaran 2026 seiring lonjakan mobilitas mudik. BBM… Read More
Poin Penting Pemerintah berencana memperpanjang batas pelaporan SPT Tahunan WP orang pribadi hingga akhir April… Read More
Poin Penting Target 63,3 juta pekerja terlindungi pada 2026, dicapai melalui strategi 3C: Coverage, Care,… Read More
Poin Penting Juda Agung dan Thomas A.M. Djiwandono resmi dilantik sebagai Anggota Dewan Komisioner OJK… Read More