Kredit BNI Tumbuh 15,6% di Kuartal III 2018
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat hingga Juli 2017, telah menyalurkan kredit ke sektor Kemaritiman sebesar Rp14,4 triliun kepada 2.359 Debitur.
Jumlah tersebut terdiri atas sektor Kelautan dan Perikanan sebesar Rp2,1 triliun (2.004 Debitur), sementara sektor lainnya sebesar Rp12,3 triliun untuk 355 debitur.
“Kredit didominasi oleh segmen pengangkutan dan pelayaran (52%), galangan kapal (20%), budidaya & Penangkapan ikan (14%), Industri pengolahan dan perikanan (6%), perdagangan hasil perikanan (6%) dan konstruksi pelabuhan (2%),” kata Wakil Direktur Utama BNI, Herry Sidharta, di Jakarta, Jumat, 25 Agustus 2017.
Herry mengatakan Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi untuk pengembangan ekonomi kelautan.
Dengan laut yang luas dapat dikembangkan untuk penangkapan ikan, budidaya ikan, rumput laut, pengembangan industri garam dan lain lain.
Terhadap bisnis turunan dari sektor kemaritiman tersebut dapat dikembangkan pula untuk pengembangan industri dan angkutan perkapalan, industri olahan hasil laut dan perdagangan hasil laut.
Dalam upaya mendukung usaha sektor kelautan, BNI sendiri telah menjalin sinergi dengan BUMN lain diantaranya adalah PT Perikanan Nusantara (Perinus).
“BNI akan mendukung berbagai program pemerintah di Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut,” jelasnya. (*)
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More