Ilustrasi: Gedung perkantoran Tugu Insurance. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Harga saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) sempat mengalami koreksi saat IHSG anjlok diterpa sentimen rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI). Namun harga saham anak usaha Pertamina Grup tersebut berhasil rebound dalam kurun waktu kurang dari satu minggu.
Pada perdagangan Rabu (3 Februari 2026), harga saham TUGU ditutup di Rp1.190. Padahal saham TUGU sempat ditutup terkoreksi 5,15 persen ke Rp1.115 pada 28 Januari 2026. Kondisi tersebut masih lebih baik dibandingkan IHSG yang anjlok signifikan sebesar 7,35 persen pada hari yang sama.
Lima hari berselang setelah kejadian tersebut, kondisi pasar mulai membaik. Dalam dua hari terakhir, IHSG berakhir finish di zona hijau dan pada perdagangan Rabu (3 Februari 2026), IHSG ditutup menguat 0,3 persen di 8.146,7.
Namun jika dibandingkan dengan posisi IHSG pada 27 Januari 2026, sebenarnya indeks saham acuan nasional tersebut masih terkoreksi 9,3 persen mengingat posisi IHSG kala itu di 8.980,2. Kontras dengan IHSG, saham TUGU justru sudah pulih mengingat posisi penutupan pada 27 Januari 2026 berada di Rp1.180.
Baca juga: Tugu Insurance Raih Best Stock Awards 2026, Bukti Fundamental Kokoh dan Kinerja Konsisten
Menurut analis Kharel Devin dari Trimegah Sekuritas, sentimen MSCI memang masih menjadi faktor yang dominan dalam menggerakkan pasar saham saat ini. Isu transparansi tentang free float saham-saham di Indonesia yang menjadi kekhawatiran investor turut memantik aliran modal asing keluar dari Indonesia.
“MSCI adalah sentimen yang dominan saat ini. Namun sebenarnya bukan berarti semua saham yang turun kinerjanya buruk. Beberapa saham bahkan masih menyimpan value yang atraktif untuk investasi jangka menengah panjang seperti TUGU,” kata Kharel dikutip 6 Februari 2026.
Menurutnya, koreksi harga saham TUGU yang relatif lebih terbatas dibandingkan dengan pasar ditengarai oleh beberapa faktor seperti komposisi dan kepemilikan asing. Kharel tidak menampik bahwa di sektor asuransi umum, saham TUGU punya likuiditas dan eksposur dana asing yang relatif tinggi dibandingkan dengan peers.
Namun, Kharel melihat jika dibandingkan dengan seluruh pasar (overall market), saham TUGU masih relatif kecil eksposurnya terhadap kepemilikan atau dana asing. Oleh sebab itu, dalam dua hari terakhir ketika terjadi capital outflows masif, saham TUGU masih relatif lebih baik kinerjanya dibandingkan IHSG.
Adapun faktor lain yang juga patut menjadi pertimbangan adalah karakter saham TUGU sebagai saham defensif dan undervalued. Kharel menjelaskan bahwa saham TUGU rutin membagikan dividen tiap tahun dengan imbal hasil yang atraktif dan valuasinya sangat atraktif.
“Tiga empat tahun terakhir payout 40 persen dan dividend yield 6-7 persen. Ini tergolong high yield karena lebih tinggi dari bunga deposito. Valuasi di 0,38x Price to Book Value (PBV) juga di bawah rata-rata valuasi peers di 0,6-0,7x PBV. Artinya potensi upsidenya masih tinggi” tambah Kharel.
Terkait dividen, Kharel memprediksi bahwa TUGU mampu mempertahankan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio) tetap di 40 persen. Sementara, menurutnya laba bersih yang berpotensi dikantongi TUGU secara konsolidasi berpotensi tetap di atas Rp700 miliar.
Baca juga: Dari Marine Hull Sampai Aviasi, TUGU Pimpin Perolehan Premi pada 4 Segmen
“Kalau dilihat dari tren laba per segmen, dividen tunai setidaknya bisa di Rp291 miliar atau setara Rp82 per saham. Dengan harga sekarang yield bisa tembus 8,2 persen. Ini sangat atraktif. Ini bisa menjadi katalis positif untuk saham TUGU. Jika dalam short term sentiment masih volatile setidaknya kalaupun tidak rebound expect saham TUGU lebih stabil” tambahnya.
Adapun menurut Kharel, TUGU berpotensi mengantongi laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp715-738 miliar untuk tahun buku 2025. Hal ini mempertimbangkan segmen asuransi umum yang sudah mengantongi laba Rp575 miliar dan segmen reasuransi dengan laba Rp172 miliar per Desember 2025.
Estimasi tersebut juga turut mempertimbangkan laba segmen usaha non asuransi umum dan reasuransi yang menyumbang 7-8 persen dari total laba TUGU serta adanya faktor penyesuaian dan eliminasi saat dilakukan konsolidasi. (*)
Poin Penting Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen pada 2025, Bank Mandiri mencatatkan aset… Read More
Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) bersinergi dalam diskusi bertema "Peran Masjid Istiqlal di Era Transformasi Digital… Read More
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan tahunan industri jasa keuangan yang digelar rutin untuk menyampaikan… Read More
Dengan adanya MyPanin, menegaskan komitmen PaninBank dalam menghadirkan aplikasi layanan perbankan digital yang komprehensif, nyaman,… Read More
Melalui kehadiran booth ini, BCA Syariah memperkenalkan berbagai produk dan layanan perbankan syariah, yaitu mobile… Read More
Oleh: Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group PERTUMBUHAN ekonomi kuartal IV tahun 2025 sebesar… Read More