Saham BRI Masih Layak Dikoleksi

Jakarta – Laju saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sampai dengan pertengahan tahun ini bergerak sangat meyakinkan dan menanjak layaknya anak tangga. Bahkan saham bank yang dipimpin Suprajarto tersebut sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang sejarah IPO perusahaan di Rp4.560 pada 15 Juli 2019.

Melonjaknya harga saham bank berkode emiten BBRI tersebut membuat banyak investor kalap dengan melakukan aksi ambil untung.

Terbukti, berdasarkan data transaksi bursa, rata-rata transaksi saham BRI, tercatat yang paling besar dari sisi value untuk periode Juli 2019. Dimana nilai transaksi saham BRI tercatat mencapai Rp9,64 triliun dengan volume saham hingga 2,16 miliar saham.

Bahkan jika dibandingkan dengan tiga bank besar lainnya seperti BCA dan Mandiri, jumlah frekuensi transaksi saham BRI jauh lebih besar di bulan Juli, sebanyak 165.723 kali transaksi, selama 23 hari perdagangan bursa. Sementara saham BCA hanya tercatat sebanyak 143.543 kali transaksi dan Mandiri sebanyak 117.215.

Pertanyaannya, apakah saham BRI masih layak dikoleksi? Dan bagaimana potensi kedepan?

Tentu tidak ada yang tau pasti. Namun jika melihat grafik dan kinerja BRI dalam beberapa tahun terakhir, tentu saham BRI sangat layak dikoleksi. Khususnya untuk jangka panjang.

Terlebih BRI selalu membagikan deviden setiap tahunnya. Terakhir, BRI membagikan dividen senilai Rp131,14 per saham atau secara total, dividen tunainya mencapai Rp16,17 triliun. Jumlah itu setara 50% dari laba bersih tahun 2018 yang senilai Rp32,35 triliun.

Sekedar informasi, per tanggal 23 Agustus 2019, saham BRI berada di level Rp4.080. Jumlah tersebut meningkat sekitar 13% dari harga di awal tahun Rp3.610.

Berdasarkan riset saham Samuel Sekuritas Indonesia, 23 Agustus 2019, saham berkode BBRI direkomendasi tahan atau hold jika sudah memiliki. Adapun target price dalam riset tersebut saham BRI di level Rp4.450.

Sedangkan berdasarkan matrik analisis teknikal saham Investa Saran Mandiri di 23 Agustus 2019, saham BRI masuk rekomendasi beli atau buy direntang harga Rp4.000-Rp4162 dengan target Rp4.293.

Kinclongnya saham BRI sendiri ditopang oleh kinerja keuangannya, hal itu mendorong optimisme investor untuk berburu saham BRI. Seperti diketahui, BRI catat perolehan laba secara konsolidasi sebesar Rp16,16 triliun atau tumbuh 8,19% hingga akhir triwulan II 2019.

Direktur Utama BRI, Suprajarto mengatakan keberhasilan perusahaan dalam membukukan laba karena ditopang oleh penyaluran kredit, khususnya ke segmen UMKM yang mencapai 76,72% atau senilai Rp681,50 triliun.

“Disisi lain feebase juga ikut mendukung perolehan laba hingga Ro12,11 triliun atau tumbuh 17,86% dari sebelumnya Rp10,28 triliun,” kata Suprajarto.

Hingga akhir Juni 2019 sendiri, BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp888,32 triliun. Jumlah tersebut meningkat 11,84% jika dibandingkan dengan perolehan diperiode sama tahun sebelumnya.

Kedepan, bukan tidak mungkin kinerja saham BRI kian melonjak, karena ditopang kinerja keuangannya. Terlebih BRI tercatat sebagai bank besar yang selalu membagi dividen setiap tahunnya. (*)

Paulus Yoga

Recent Posts

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

2 hours ago

OJK Soroti Indikasi Proyek Fiktif di Fintech Lending, Minta Penguatan Tata Kelola

Poin Penting OJK menyoroti indikasi proyek fiktif di fintech lending dan menegaskan praktik fraud akan… Read More

3 hours ago

Risiko Banjir Meningkat, MPMInsurance Perkuat Proteksi Aset

Poin Penting Risiko banjir dan bencana meningkat, mendorong pentingnya proteksi aset sejak dini melalui asuransi… Read More

3 hours ago

OJK Targetkan Aset Asuransi Tumbuh hingga 7 Persen di 2026

Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More

3 hours ago

OJK Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh hingga 12 Persen di 2026

Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More

4 hours ago

Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only Jadi Alarm Keras Industri Pembiayaan

Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More

5 hours ago